Momentum Hari Kartini Menurut Sekertaris DPD PSI Kota Salatiga -->

Momentum Hari Kartini Menurut Sekertaris DPD PSI Kota Salatiga

Wednesday, April 21, 2021, 10:19:00 AM


SALATIGA,MATALENSANEWS.com-Hari Kartini sebagai momentum yang tepat untuk melanjutkan perjuangan Kartini dalam membangkitkan derajat kaum wanita Indonesia, Rabu (21/4/21).


Sekertaris DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Salatiga Yoana, berusaha meneladani setiap perjuangan yang dilakukan RA Kartini demi kemajuan perempuan di Indonesia.


“Hari Kartini bagi kaum wanita yaitu sebagai pengingat bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki seorang wanita pelopor pejuang keadilan untuk kaum perempuan Indonesia yang bernama Raden Ajeng Kartini,” kata Yoana.


“Beliau adalah seorang Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia yang terkenal gigih memperjuangkan kesetaraan kaum wanita selama hidupnya,” tambah Yoana.


Alasan 21 April yang dipilih sebagai hari nasional karena tanggal tersebut merupakan hari lahir Sang Pahlawan Nasional, yaitu 21 April 1879. Kartini merupakan putri dari bupati Jepara, Raden mas Adipati Ario Sosroningrat dan istrinya ibu M.A.Ngasirah. Pada usia 24 tahun ia menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat.


Kartini tumbuh dan menjalani pendidikan modern. Dari sanalah, Kartini memiliki pandangan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah kunci penting bagi emansipasi manusia. Pada usia remaja, ia berhasil melahirkan sebuah karya yang terbit di Holandsche Leile yang berjudul "Upacara Perkawinan pada Suku Koja."


Kartini juga sering membagikan pemikirannya pada teman-teman Belanda dengan menulis sejumlah surat berbahasa Belanda.


Salah satu buah pemikirannya yang paling berpengaruh adalah buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku tersebut merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang ia kirimkan pada teman-teman korespondensi dari Belanda, salah satunya seorang sahabat pena bernama Rosa Abendanon.


Surat-surat tersebut berisi pemikiran Kartini mengenai tradisi feodal, pernikahan paksa dan poligami, hingga gagasan mengenai pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Kartini juga mengeluhkan budaya Jawa kala itu yang ia pandang menghambat kemajuan perempuan.


Menurut Sis Jo begitu panggilan akrabnya, sosok R.A. Kartini, memang tidak bisa dianggap sekadar perempuan biasa. Tanpanya, mungkin kesetaraan dalam semangat kemajuan kaum perempuan tidak akan terasa hingga sekarang.


Berbicara tentang hari Kartini, adalah berbicara tentang emansipasi,bagaimana perempuan diperlakukan setara dan sederajat dengan laki-laki dalam mempunyai persamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara dan manusia.


Perempuan sebagai istri bukan hanya "konco wingking" tetapi merupakan "konco samping" yang artinya wanita bukan hanya melakukan pekerjaan rumah tangga tetapi juga mampu menjadi teman berpikir dan bekerja sama serta berkontribusi yang sama.


Perempuan sebagai ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya, terutama dalam hal budi pekerti, etika dan sopan santun. 


Perempuan harus diberi ruang untuk berkontribusi pada bangsa dan negara. Semakin banyak perempuan duduk di parlemen dan menjabat sebagai menteri, staff khusus presiden harus semakin banyak kemudian. 


Harus diakui bahwa saat-saat ini belum banyak perempuan yang terjun ke dunia politik, karena masih  ada kesan bahwa politik bukan untuk perempuan dan politik adalah ranah yang terlalu menakutkan. Stigma tersebut harus dirubah,makin banyak perempuan yang terlibat di politik pasti akan merubah wajah politik Indonesia.


Momen Hari Kartini tahun ini berbeda karena adanya pandemi virus corona (Covid-19). Namun meskipun demikian,Kita tetap harus selalu bersyukur, terang Yoana.(Tri)


TerPopuler