Advertisement
SALATIGA,MATALENSANEWS.COM - Ketua ELBEHA Barometer, Sri Hartono, menilai Indonesia akan sulit bergerak maju jika energi publik terus tersedot untuk memperdebatkan persoalan politik yang dinilainya tidak memberikan masukan berarti bagi kemajuan bangsa.
Pernyataan itu disampaikan Sri Hartono saat menyoroti kembali polemik persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kembali menjadi perhatian publik setelah Mahkamah Konstitusi membacakan putusan pada 6 Oktober 2026.
Dalam putusannya, MK menyebut tidak menemukan bukti meyakinkan yang menunjukkan Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan minimal SLTA atau sederajat. Namun, MK menyatakan tidak dapat membatalkan atau mendiskualifikasi Gibran dari jabatan Wakil Presiden.
Sri Hartono mengatakan, polemik tersebut semestinya tidak membuat masyarakat kehilangan fokus terhadap persoalan yang lebih besar.
“Negara lain sudah berlomba-lomba melakukan inovasi. Sedangkan di negara kita masih membahas hal-hal yang menurut saya sama sekali tidak memberikan masukan positif untuk bangsa ini,” ujarnya.
Menurut dia, masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi isu politik yang berkembang. Ia mengingatkan agar publik tidak mudah terprovokasi ataupun terbawa arus perdebatan yang terus bergulir di ruang publik.
Sri Hartono juga mengingatkan masyarakat untuk mencermati kepentingan politik di balik setiap isu yang berkembang.
“Jangan mudah terprovokasi dan kebawa arus. Itu jelas ulah para politikus yang bermain kotor dan orang-orang yang ingin mendapatkan posisi,” katanya.
Ia menilai fenomena munculnya kelompok yang mengambil posisi berseberangan dengan pemerintah juga bukan sesuatu yang baru dalam dinamika politik.
“Sudah banyak contohnya. Coba di-riset. Jangan sampai kita dibodohi oleh keledai politik,” tegas Sri Hartono.
Sri Hartono menekankan, kritik terhadap pemerintah tetap penting dalam demokrasi. Namun, menurutnya, kritik seharusnya diarahkan pada persoalan yang memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat, bukan sekadar memperpanjang polemik yang tidak menghasilkan solusi.
Ia mengajak masyarakat menggunakan nalar kritis, memeriksa informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, serta tidak mudah mengikuti narasi politik yang ramai di media sosial.
Dengan demikian, menurut Sri Hartono, energi masyarakat dapat lebih banyak diarahkan pada persoalan yang menyangkut ekonomi, pendidikan, inovasi, lapangan kerja, pelayanan publik, dan masa depan bangsa.

