Ini Strategi Gus Halim Percepat Pembangunan di Riau -->

Ini Strategi Gus Halim Percepat Pembangunan di Riau

Wednesday, July 28, 2021, 11:01:00 PM



Jakarta,MATALENSANEWS.com – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar mengatakan, bakal mengkonsolidasikan desa-desa di Provinsi Riau agar terlibat dalam percepatan pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah.

 

Hal itu ia sampaikan saat Rapat Koordinasi tingkat Menteri terkait dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah di Provinsi Riau secara virtual pada Rabu (28/7/2021).

 

Halim Iskandar mengatakan, posisi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah mengkonsolidasikan desa-desa sekitar wilayah industri, investasi dan food estate termasuk juga desa-desa yang ada di wilayah abrasi pantai.

 

“Sebagaimana sudah kita lakukan di beberapa wilayah untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang untuk menahan abrasi pantai,” jelas Halim Iskandar

 

Pria hang akrab disapa Gus Halim ini mengatakan, posisi desa-desa yang ada di wilayah abrasi pantai ini nantinya akan  menjadi supporting sistem desa-desa yang ada di wilayah industri, investasi dan food estate.

 

“Sementara di lingkar transmigrasi kita akan ikut konsolidasi terkait dengan percepatan di dalam penyelesaian berbagai hal yang terkait dengan kesiapan lahan kawasan transmigrasi,” ungkap Gus Halim.

 

Sebagai informasi, pada 2021, dana desa yang digelontorkan ke Provinsi Riau mencapai Rp1,4 Triliun.

 

Pada masa Pandemi COVID-19, dana yang bersumber dari APBN tersebut diprioritaskan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa, Padat Karya Tunai Desa (PKTD), dan Desa Aman COVID-19.

 

Teks: Rifqi/Kemendes PDTT

[28/7 22.44] +62 852-4016-0616: *RILIS PUPR 1*

*28 JULI 2021*

*SP.BIRKOM/VII/2021/370*


*Jaga Kelestarian Sumber Daya Air, Menteri Basuki Instruksikan Revitalisasi Kawasan Bendungan Cengklik di Boyolali*


Boyolali - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melakukan revitalisasi dan penataan kawasan Bendungan Cengklik di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Program ini bertujuan untuk memaksimalkan  fungsi utama bendungan sebagai tampungan air dan irigasi sekaligus peremajaan Bendungan Cengklik yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia-Belanda sekitar tahun 1923-1931. 


Saat meninjau lokasi Bendungan Cengklik, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menginstruksikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Ditjen Sumber Daya Air (SDA) untuk mempercepat program revitalisasi dan penataan kawasan. 


"Di kawasan Bendungan Cengklik ini kalau kita lihat sudah banyak warung-warung yang berdiri di area tubuh bendungan serta aktivitas pertanian pasang surut. Hal-hal itu menjadi faktor penyebab bendungan tidak sehat," kata Menteri Basuki di lokasi, Selasa (27/7/2021).


Kepala BBWS Bengawan Solo Agus Rudyanto menyampaikan program revitalisasi dan penataan kawasan Bendungan Cengklik mulai  dilaksanakan tahun ini juga dengan target proses lelang bulan Agustus. Anggaran pelaksanaannya bersumber dari APBN senilai Rp 35 miliar. 


"Dalam proses revitalisasi nantinya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga memerlukan dukungan penuh dan kolaborasi dari berbagai pihak terkait, termasuk elemen masyarakat," ujar Agus Rudyanto. 


Kegiatan revitalisasi dan penataan kawasan yang dikerjakan berupa  pemeliharaan rutin pengambilan aceng gondok dengan harvester, remedial Bendungan Cengklik, penataan warung dan kawasan wisata, pekerjaan lansekap dan zonasi bendungan, penataan zonasi karamba jaring apung, pengukuran bathimetri serta manajemen pengelolaan sampah di lingkungan waduk.


BBWS Bengawan Solo juga melakukan operasional pemeliharaan rutin secara berkala, remedial di hulu bendungan, pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan komunitas peduli waduk, penyusunan AMDAL, dan penyusunan serta sosialisasi Rencana Tahunan Operasi Waduk. 


Bendungan Cengklik memiliki kapasitas tampung 9,87 juta m3 dengan fungsi utama sebagai sumber air irigasi lahan pertanian seluas 1.041 hektar. Bendungan yang berlokasi di dekat Bandara Adi Soemarmo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali ini juga dimanfaatkan sebagai destinasi wisata dan budidaya ikan. 


Bendungan Cengklik didesain tipe urugan tanah homogen dengan panjang puncak 750 meter dan lebar mencapai 4 meter. Konstruksi bendungan dilengkapi dengan tiga bangunan intake, yakni intake utama berupa menara dengan 2 pintu air tipe butterfly valve, serta pintu sorong pada bagian intake kiri dan kanan. 


Hadir dalam peninjauan Menteri Basuki, Ketua Gugus COVID -19 Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilaga, Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi,  Industri dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah – D.I. Yogyakarta Satrio Sugeng Prayitno, Kepala BPPW Jateng Cakra Nagara, Kepala BBWS Bengawan Solo Agus Rudyanto. (Red)


Sumber : Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR


TerPopuler