Danramil Pulau Bacan Turut Rasakan Derita Anak Petani Tetap Semangat -->

Header Menu


Danramil Pulau Bacan Turut Rasakan Derita Anak Petani Tetap Semangat

Saturday, October 30, 2021


HALSEL,MATALENSANEWS.com- Seorang petinggi TNI Dandramil 1509-01/Bacan Kapten Inf Aga Galela, turut merasakan penderitaan yang di alami masyarakat petani kilo meter 9 desa sayoang kecamatan bacan timur kabupaten halmahera selatan (halsel),


Penderitaan yang turut dirasakan orang nomor satu di koramil pulau bacan itu, ketika melihat kondisi jalan tani di areal kilo meter 9 menuju jalan air terjun anggoing desa sayoang (halsel) rusak parah,


Kata Aga, penderitaan yang di alami masyarakat petani di KM 9 desa sayoang dirinya juga merasakan hal yang sama, karena orang tuanya berasal dari petani. Jumat/20/10/21


Apa yang masyarakat petani disana merasakan kesulitan jalan yang rusak, saya juga merasakan semua itu. saya ini anak seorang petani yang hidup sehari-hari makan singkong (kasbi) dan pisang,


"Apa yang masyarakat petani rasakan saya juga ikut merasakan semua itu. sakit dan menderita semasa hidup saya bersama orang tua seorang petani, tetapi jadi anak yang lahir dari seorang petani harus semangat." tutur (Aga).


Hal yang sama di ceritakan anak seorang petani yang bertempat tinggal di desa Babang (halsel), Sukandi Ali disapa Andi saat bersinergi bersama Danramil 1509-01/Bacan, Kapten Inf Aga Galela di ruang kerjanya. Jumat 29/19/21,


Andi yang di percayakan sebagai ketua kelompok tani berjumlah 64 orang itu, juga di percayakan melaksanakan tugas sebagai Wartawan  biro halmahera selatan saat ini,


Ia menceritakan, selama hidup sejak usia dini hingga kini, dirinya hidup bersama satu orang tua perempuan dan satu orang saudara laki-laki,


"Saya lahir tanggal 19 juli tahun 1988 dari anak petani dan tumbuh dewasa sebagai petani. sejak usia saya dua bulan kemudian bapak meninggal dunia tanpa meninggalkan harta sepersen apa pun tetapi ibu tidak menikah lagi sampai kini." kata (andi).


Lanjut andi, Setelah dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1990an. ibu saya membuka kebun baru, dengan ukuran 2 hektar di areal kilo meter 9 desa sayoang,


Hampir setiap hari saya bersama kaka dan ibu  jalan kaki pergi kebun dengan jarak tempuh 9 kilo meter dari desa babang. Saat itu belum ada akses jalan yang dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat sehingga saya di gendong oleh ibu setiap ke kebun.


Selain itu kata andi. Pekerjaan ibu nya pada waktu yang sulit  memetik rica hutan dan sayur kangkung di tepi air kali kemudian dijual agar dapat membeli beras,


Sejak saya bersama kaka laki-laki tempuh dunia pendidikan dari bangku SD,SMP dan SMA sampai selesai kuliah S1, 


"Pekerjaan ibu saya sebatas petik rica di hutan dan sayur kangkung di tepi air kali serta mengumpul pasir lalu dijual untuk biaya pendidikan dan biaya hidup sehari-hari." tutur (Andi).


Kisah piluh Andi bersama kaka dan ibu nya membuat kita semua teringat betapa sakit dan menderita hidup sebagai seorang petani yang menderita di atas penderitaan.


( Jek)