Bukan Sulap Bukan Sihir, SMP Pangudi Luhur Salatiga Tanam Seribu Pohon -->

Header Menu

Bukan Sulap Bukan Sihir, SMP Pangudi Luhur Salatiga Tanam Seribu Pohon

Saturday, September 3, 2022


Salatiga,MATALENSANEWS.com- Hari Jumat 2 September 2022 siang lapangan SMP Pangudi Luhur Salatiga memerah dan terlihat kesibukan yang luar biasa asyik. Para siswa SMP Pangudi Luhur Salatiga dengan mengenakan seragam kaos identitas  berwarna merah berkutat dengan tanah, gelas plastik, plastik, karet, dan ranting tanaman pucuk merah. Mereka beramai-ramai melaksanakan Gerakan Menanam Seribu Pohon.


Gerakan Menanam Seribu Pohon dicanangkan oleh SMP Pangudi Luhur Salatiga dalam rangka menyongsong hari Pelindung Sekolah Santo Mikhael yang jatuh pada tanggal 29 September 2022 nanti. Gerakan ini melibatkan seluruh siswa, guru karyawan serta orang tua atau wali siswa. Diharapkan tanaman pucuk merah yang ditanam para siswa dan guru karyawan itu pada tanggal 29 September 2022 nanti sudah berakar dan bisa dibagikan kepada masyarakat sebagai ajakan untuk pelestarian lingkungan.


Hari Jumat siang yang biasanya digunakan untuk kegiatan ekskul pramuka, khusus hari Jumat 2 September 2022 digunakan untuk kegiatan Gerakan Menanam Seribu Pohon. Sebagai narasumber dan fasilitator mendatangkan Bapak Andi, Bapak Petrus Kriswigati dan Ibu Widyastuti. Mereka adalah orang tua siswa yang mumpuni dalam Gerakan Laudato Si khususnya di Gereja Paulus Miki Salatiga. Gerakan Laudato Si merupakan ajakan dari Paus Fransiskus untuk melakukan tindakan-tindakan konkret menjaga keutuhan ciptaan Tuhan. Di SMP Pangudi Luhur Salatiga  diwujudkan dalam tindakan merawat dan menjaga lingkungan serta penanaman pohon.


Gerakan Menanam Seribu Pohon diawali dengan duduk berbaris rapi menurut kelas masing-masing di lapangan rumput yang ada di depan sekolah. Para narasumber dan fasilitator menjelaskan bagaimana cara menanam pucuk merah dengan stek. Media tanam yang digunakan campuran tanah, kulit padi, kompos, dan air. Alat yang diperlukan cuter, cup gelas plastic ukuran 12 Oz, karet gelang, kantong plastik putih ukuran 1 kg,  bawang merah, serta ranting pucuk merah yang akan dibuat stek tanaman. Caranya media tanam dimasukkan ke dalam cup gelas plastik. Sementara itu ranting pucuk merah yang akan ditanam dikurangi daunnya lalu bagian batang yang akan ditanam diruncingkan dan diolesi bawang merah. Fungsi bawang merah adalah merangsang tumbuhnya akar dan mensterilkan batang dari penyakit. Masukkan stek pucuk merah ke media tanam, bungkus dengan kantong plastik dari atas lalu ikat dengan karet bagian bawahnya menyatu dengan gelas. Tujuannya agar air yang menguap dari tanaman turun lagi. Letakan cup gelas yang sudah ditanami stek di tempat yang teduh. Bila media tanam kelihatan kering bagian bawah gelas plastik dicelupkan pada air. Tunggu dua sampai 3 minggu pasti tanaman pucuk merah sudah tumbuh akarnya.



Selanjutnya para siswa dan guru karyawan mulai praktik. Keseruan mulai nampak ketika para siswa mengaduk tanah yang akan dijadikan media tanam. Mereka tidak takut kotor bahkan menikmati setiap proses penanaman. Setiap siswa maupun guru karyawan diwajibkan membuat 5 tanaman. Semua terlihat asyik sampai tidak terasa waktu sudah habis. Kegiatan out door yang menyenangkan sekaligus membiasakan diri untuk mencintai lingkungan. Sebagai refleksi di rumah para siswa diminta menulis karangan tentang kegiatan tersebut.


Sebelum pulang kita simpan tanaman tersebut di teras belakang kantor sekolah yang teduh dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Seribu tanaman siap dibagikan bila saatnya tiba nanti. Semoga akar-akar tanaman itu tumbuh subur dan menjadi tanaman yang bisa menghijaukan lingkungan serta memberikan keindahan dan kesegaran di sekitarnya. Lestarilah alamku. Lestarilah bumiku. Spalusa: Saya Indonesia. Saya Pancasila. Saya Pangudi Luhur.(GAS)