Kapolda dan Ketua MUI Jateng Sepakat Perjudian Perlu Penanganan Komprehensif -->

Header Menu

Kapolda dan Ketua MUI Jateng Sepakat Perjudian Perlu Penanganan Komprehensif

Monday, September 19, 2022


Laporan : Wahyu Nugroho

SEMARANG - Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi menjadi Nara sumber dalam Acara Ulama Menyapa yang ditayangkan langsung TVKU Semarang pada Senin (19/9).


Pada episode yang bertema: "Kesigapan Kepolisian & Urgensi Mensyarakat Dalam Memberantas Perjudian di Jawa Tengah" itu, Kapolda Ahmad Luthfi mengatakan tugas Polisi dengan Ulama itu sebenarnya sama. 


"Yaitu melakukan amar makruf nahi mungkar, dan sama sama memberantas penyakit masyarakat (Pekat). Tidak hanya judi. Ada narkoba, minuman keras dan semua penyakit masyarakat. Itu adalah tugas  bersama," ujarnya 


Dia menekankan, penanganan masalah judi merupakan sesuatu yang bersifat komprehensif dan tidak melulu dilakukan melalui jalur penegakan hukum. 


Artinya, ada upaya pre emtif dan preventif sehingga penanganan perjudian dapat menyeluruh, dengan menggali kesadaran masyarakat bahwa perjudian adalah hal dilarang dan melanggar hukum.


"Polda Jawa Tengah tidak bangga (bila hanya) melakukan penindakan Hukum kepada masyarakat. Oleh karena itu, kita gandeng Stakeholder termasuk alim ulama. Kalau perlu Departemen Sosial dilibatkan," tuturnya.


Menurut Kapolda, Arena judi itu pada hakekatnya berkembang karena masyarakat sendiri. Situasi  pandemi Covid yang berakibat sulitnya lapangan kerja, membuat masyarakat mencari jalan pintas.


"Salah satu jalan di antaranya adalah melalui judi. Sejumlah warga terobsesi pada judi karena menganggap berjudi akan selalu membawa kemenangan. Persepsi seperti ini harus diubah," kata dia. 


"Ya Ndak. Dimana-mana judi tidak membawa keuntungan. Adanya ya bangkrut. Makanya stigma ini harus kita hilangkan," ungkap Kapolda.


Irjen Ahmad Luthfi mencontohkan tentang teori kejahatan dimana kejahatan muncul ketika ada niat dan kesempatan. 


"Pada saat muncul niat, disitu ada peran alim ulama. Termasuk stakeholder, harus bersama sama muncul pada situasi itu. Alim Ulamanya berperan, tokohnya berperan untuk sama-sama menyerukan pada masyarakat bahwa judi itu melanggar perintah Agama dan melanggar hukum positif di Indonesia," paparnya.


Diungkapkannya, pada periode Januari sampai September 2022, Polda Jateng dan jajaran sudah memproses 477 tersangka judi. Beragam kasus yang ditangani termasuk di antaranya judi Online, Offline, gelanggang (arena) dan sabung ayam.


"Seluruh jajaran sudah saya perintahkan untuk tidak memberi ruang pada perjudian, tanpa pandang bulu," tegasnya.


"Hasilnya sekarang sudah bersih. Namun kalau (pelaku judi) masih berani muncul lagi, saya minta masyarakat segera lapor polisi, baik itu Polsek atau Polres.  Saya pastikan akan ditindak tegas karena sudah menjadi komitmen bapak Kapolri yang sudah disampaikan ke seluruh jajaran Polda," tegas Irjen Ahmad Luthfi 


Namun dia kembali menekankan, pemberantasan judi harus melalui upaya komprehensif agar berhasil optimal. Upaya pre emtif dan preventif juga harus dikedepankan.

 

"Karena perjudian itu sudah mengakar  bukan di Jawa tengah saja namun di seluruh daerah ada," kata Kapolda.


Sementara Ketua MUI Jawa Tengah KH. Ahmad Darodji menjelaskan, judi, khamr merupakan perbuatan setan yang harus di jauhi setiap umat beragama agar selamat. 


"Untuk itu, MUI Jawa Tengah bersama Polda Jateng sepakat berkomitmen untuk sama sama berperan yaitu Ulama  dengan pencegahan  dan kepolisian dengan  Penindakan," lanjutnya.


Kyai Ahmad menambahkan, judi mempunyai efek candu dimana sebagian pelakunya terobsesi untuk mengulanginya lagi 


"Hebatnya Judi ini meski kalah, pelakunya tidak kapok. Dia akan selalu mencoba dan mencoba lagi. Contohnya, pada saat ini dia kalah Rp 50 ribu maka dia akan berusaha bagaimana modalnya kembali. Dia juga tak ragu menaikkan taruhan jadi Rp 100 ribu," ungkapnya 


Efek ini, kata dia, dapat memunculkan potensi psikologis yang negatif dan berbahaya buat diri dan orang di sekitarnya. 


"Bisa memicu permusuhan dan sakit hati sehingga apapun akan dilakukan. Maka dari itu,  disinilah para ulama sepakat bahwa mental masyarakat harus terus diperbaiki ke arah yang positif dan produktif. Jangan sampai rusak lagi," pungkasnya.