Advertisement
Laporan: Tri
UNGARAN | MATALENSANEWS.COM - Jika melangkahkan kaki ke dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngreco, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, pengunjung akan menjumpai fasilitas yang jauh dari kesan dapur biasa. Dapur yang bermitra dengan Badan Gizi Nasional (BGN) itu ditata dengan standar profesional dan tingkat higienitas tinggi, bahkan disebut setara dapur hotel berbintang.
Kepala SPPG Dapur Ngreco, Nila, mengatakan penataan dilakukan sejak pintu masuk. Setiap petugas diwajibkan menjaga kebersihan diri sebelum bekerja. “Setiap petugas diwajibkan menjaga kebersihan tangan dan badan sebelum bekerja. Ada ruangan penyimpanan bahan makanan, ruang penyimpanan alat makan, dapur, dan lainnya,” ujarnya kepada wartawan.
Dapur MBG Ngreco dibangun dua lantai. Lantai atas difungsikan sebagai ruang rapat untuk perencanaan menu harian serta penentuan pemasok bahan makanan. “Jadi di lantai dua ini kita berdiskusi tentang menentukan menu setiap hari-harinya. Untuk menentukan supplier dan untuk meeting,” kata Nila.
Adapun penerimaan bahan baku dilakukan di lantai bawah. Dapur ini memiliki dua gudang terpisah, yakni gudang bahan basah dan gudang bahan kering. “Di tengah-tengah gudang itu ada tempat menerima bahan baku. Setelah diterima, bahan langsung dipilah untuk dimasukkan ke masing-masing gudang,” ujarnya.
Seluruh proses pengolahan makanan dijalankan dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat, mulai dari penerimaan bahan, pengolahan, pemasakan hingga pemorsian. “Dapur ini menggunakan stainless, itu salah satu cara menjaga mutu dan kualitas makanan,” tegas Nila.
Ruang pemorsian dibuat tertutup dan dilengkapi pendingin udara untuk menjaga kualitas makanan. Proses pencucian ompreng juga dilakukan secara steril dengan air panas. “Kita menggunakan air panas mendidih,” katanya.
Dapur MBG Ngreco bahkan dilengkapi mesin pengering ompreng bersuhu hingga 1000 derajat. “Setelah dicuci, ompreng langsung dimasukkan ke pengering agar bakteri-bakteri yang menempel bisa mati dan steril,” ujarnya.
Menurut Nila, pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai tahap perencanaan hingga makanan dikemas. “Artinya dari proses perencanaan, proses masak hingga setelah dikemas itu sangat ketat,” ucapnya.
Sebagai langkah antisipasi, dapur ini juga menyiapkan prosedur pengawasan tambahan. “Di ruang pemorsian itu ada satu kotak etalase untuk menyimpan sampel-sampel makanan. Kita ambil satu sampel untuk dimasukkan ke dalam etalase tersebut, kita kunci dan itu dilakukan setiap jam,” kata Nila.
Seluruh aktivitas dapur berada di bawah pengawasan ahli gizi. “Setiap harinya ada pengawasan dari ahli gizi. Saya juga berlatar belakang dari gizi juga,” ujarnya.
Pengawasan diperkuat dengan pemasangan kamera pengawas di setiap titik. “Jangankan orang masuk, tikus masukpun kita pasti mengetahui,” pungkas Nila.

