Advertisement
Laporan : Aris Yanto
DEMAK|MatalensaNews.com – Bentuk protes unik sekaligus memilukan dilakukan warga Desa Kalisari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Karena banjir tak kunjung surut selama hampir tiga pekan, warga membentangkan spanduk bertuliskan “Desa Dijual” di lokasi genangan banjir serta menanam pohon pisang di tengah jalan yang terendam air.
Aksi spontan tersebut menjadi puncak kekecewaan warga terhadap Pemerintah Kabupaten Demak dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dinilai kurang responsif terhadap penderitaan masyarakat akibat banjir berkepanjangan.
Banjir dengan ketinggian sekitar 40 hingga 60 sentimeter telah merendam jalan poros kabupaten di Desa Kalisari selama tiga pekan terakhir. Jalan tersebut merupakan akses utama penghubung Kabupaten Demak dengan Kota Semarang. Akibatnya, aktivitas warga nyaris lumpuh total.
Sejumlah pengendara sepeda motor yang nekat melintas dilaporkan mogok karena mesin kemasukan air. Para pelajar pun harus berjuang ekstra untuk berangkat ke sekolah dengan menumpang mobil bak terbuka atau berjalan kaki menerjang banjir sejauh sekitar 600 meter.
Salah seorang warga, Saerozi, mengatakan spanduk bertuliskan “Desa Kalisari Dijual” dipasang sejak Minggu (19/1/2026) sore. Selain spanduk, warga juga memasang poster bernada protes dan menanam pohon pisang di tengah jalan sebagai simbol kekecewaan.
“Ini puncak kejengkelan warga. Sudah berkali-kali banjir, tetapi belum ada perhatian dari pemkab maupun provinsi. Belum ada pejabat yang meninjau ke sini, padahal sudah tiga minggu,” ujar Saerozi, Senin (20/1/2026).
Ia menambahkan, air banjir telah masuk ke rumah-rumah warga dengan ketinggian mencapai setengah lutut orang dewasa. Dampaknya, aktivitas ekonomi lumpuh dan anak-anak kesulitan berangkat ke sekolah.
“Dampaknya besar sekali. Anak-anak sulit sekolah, ekonomi mati. Kami menanam pohon pisang di tengah jalan supaya kendaraan melintas lebih pelan,” katanya.
Warga lainnya, Sari, mengungkapkan bahwa persoalan banjir di wilayah tersebut bukan kejadian baru. Menurutnya, genangan air di jalan kabupaten itu telah berlangsung sekitar empat bulan dan diperparah oleh buruknya sistem drainase.
“Sudah empat bulan seperti ini. Memang pernah disedot pompa, tetapi begitu hujan deras, banjir kembali terjadi. Akibatnya, banyak warung sepi bahkan gulung tikar. Kasihan warga yang punya cicilan bank tetapi tidak bisa berjualan,” keluhnya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan peninggian jalan serta perbaikan saluran drainase secara permanen agar akses transportasi dan roda perekonomian kembali normal.
Menanggapi aksi protes warga, Kapolsek Sayung AKP Suprapto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyampaikan aspirasi secara santun. Ia meminta warga tidak melakukan tindakan yang berpotensi memperkeruh suasana.
Sebagai informasi, banjir tidak hanya merendam Desa Kalisari. Sejumlah desa lain di Kecamatan Sayung, seperti Desa Sayung, Tugu, Loireng, dan Purwosari, juga masih tergenang. Selain itu, banjir turut merendam Desa Wonorejo di Kecamatan Karanganyar serta lima desa di Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak.

