Advertisement
Laporan : Aris Yanto
DEMAK |MatalensaNews.com– Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah. Selain merendam ribuan rumah warga, bencana ini juga menyebabkan akses jalan terputus di beberapa lokasi, sehingga aktivitas masyarakat terganggu.
Salah satu wilayah yang terdampak banjir cukup parah adalah Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar. Banjir di desa tersebut telah berlangsung selama empat hari terakhir dan terus meluas. Berdasarkan pantauan MatalensaNews.com, Rabu (14/1/2026) pukul 10.30 WIB, genangan air yang sebelumnya hanya merendam permukiman warga kini juga menggenangi halaman kantor-kantor pemerintah setempat.
Kepala Desa Wonorejo, Achmad Rozikin, mengatakan banjir telah merendam hampir seluruh wilayah desa dan berdampak pada ribuan jiwa.
“Yang terdampak masyarakat kami, KK-nya kurang lebih berjumlah 1.923, dengan jumlah penduduk sekitar 6.100 jiwa,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).
Selain merendam rumah warga, banjir juga mengancam sektor pertanian. Sekitar 70 hektare sawah yang siap panen di Desa Wonorejo terancam gagal panen atau puso. Kerugian yang ditaksir dialami para petani mencapai ratusan juta rupiah.
Sementara itu, berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, banjir kini telah meluas ke delapan desa yang tersebar di empat kecamatan. Sebelumnya, wilayah terdampak tercatat hanya tujuh desa.
Adapun desa-desa yang terdampak banjir meliputi Kecamatan Demak yakni Kelurahan Betokan dengan ketinggian air 15–30 sentimeter dan Desa Karangmelati setinggi 20–50 sentimeter. Di Kecamatan Bonang, banjir merendam Desa Tridonorejo dengan ketinggian air 20–35 sentimeter, Desa Jatirogo 20–30 sentimeter, serta Desa Bonangrejo 20–40 sentimeter.
Di Kecamatan Karanganyar, Desa Wonorejo tergenang air setinggi 20–50 sentimeter. Sementara di Kecamatan Sayung, banjir melanda Desa Sayung dengan ketinggian air 20–65 sentimeter dan Desa Kalisari setinggi 20–45 sentimeter.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Demak, Suprapto, menjelaskan banjir di wilayah Demak disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sehingga debit sungai meluap dan masuk ke permukiman warga.
“Penyebabnya tingginya curah hujan dan aliran sungai avour ke Sungai Sipon Gajah yang tidak berjalan normal,” jelasnya melalui pesan tertulis, Rabu (14/1/2026).
Hingga saat ini, banjir di Desa Wonorejo tercatat telah merendam sebanyak 1.932 unit rumah warga.
Selain banjir, dampak cuaca ekstrem juga dirasakan di wilayah pesisir. Akses jalan menuju Dukuh Tambaksari RT 01 RW 04, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, terputus akibat diterjang ombak dan gelombang laut tinggi. Kepala Desa Bedono, Agus, mengatakan jalan yang dibangun secara swadaya oleh warga tersebut mengalami kerusakan parah dan tidak dapat dilalui.
“Iya, jalannya putus karena ombak. Jalan yang dibangun oleh masyarakat tidak bisa diakses,” kata Agus melalui sambungan telepon, Senin (12/1/2026).
Jalan sepanjang sekitar satu kilometer itu merupakan satu-satunya akses darat warga Dukuh Tambaksari sekaligus jalur menuju kawasan wisata religi Makam Terapung Syech Mudzakir. Akibat terputusnya akses tersebut, sebanyak 11 kepala keluarga dilaporkan terisolasi. Anak-anak di wilayah itu juga tidak dapat bersekolah karena tingginya ombak menyulitkan penggunaan perahu sebagai sarana transportasi.
Meski demikian, Agus menyebut warga setempat memilih bertahan dan tidak meminta dievakuasi. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Demak dapat memberikan perhatian terhadap kerusakan infrastruktur akibat bencana tersebut.
“Harapan kami, Pemerintah Kabupaten Demak dapat memberikan perhatian agar akses jalan itu bisa tersambung kembali,” pungkasnya.

