Advertisement
Laporan : Goent
BOTOLALI|MatalensaNews.com — Saat fajar pertama tahun 2026 menyapa, denyut kehidupan di RT 01/RW 01 Dukuh Nganjung-Anjung, Desa Ngablak, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, terasa berbeda. Bukan suara alat berat atau proyek berskala besar, melainkan derap langkah warga yang bergerak serempak memperbaiki dan membersihkan jalan kampung menuju lahan pertanian mereka.
Jalan yang sebelumnya sempit dan kurang nyaman dilalui kini tampak lebih lebar dan bersih. Jalur tersebut menjadi urat nadi aktivitas para petani setempat, sekaligus penghubung penting antarwarga di kawasan Nganjung-Anjung. Seluruh proses pengecoran dan pembersihan dilakukan secara gotong royong, tanpa sokongan anggaran pemerintah.
Menariknya, seluruh pembiayaan kegiatan tersebut bersumber dari dana pribadi masyarakat. Sebuah isyarat sunyi bahwa rasa memiliki dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat di pedesaan Boyolali. Di balik kerja kolektif itu, kemandirian ekonomi desa perlahan menunjukkan wajahnya.
Di tengah kesibukan kerja bakti, hadir pula seorang relawan yang memberikan kontribusi signifikan. Namun, ia memilih tetap berada di balik layar dan menolak namanya disebutkan. Sikapnya seakan menegaskan bahwa ketulusan tak selalu memerlukan pengakuan, cukup meninggalkan manfaat.
Ketua RW 01 Dukuh Nganjung-Anjung, Suparno, yang turut terjun langsung dalam kegiatan tersebut, menyebut perbaikan jalan ini memiliki makna lebih dari sekadar pembangunan fisik.
“Ini bukan hanya soal memperbaiki jalan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dan menguyubkan warga, khususnya masyarakat Nganjung-Anjung. Harapannya, ke depan juga bisa memperlancar rezeki para petani kami,” ujar Suparno di lokasi kegiatan.
Aksi gotong royong di awal tahun ini menjadi cermin bahwa semangat kebersamaan di Boyolali masih terawat. Dari gang kecil di perkampungan, perubahan perlahan bergerak—diam-diam, namun terasa dampaknya bagi banyak orang.

