Advertisement
Laporan : Goent
MatalensaNews.com-Dunia malam kerap dipersepsikan sebagai ruang gemerlap yang penuh kebebasan, tetapi juga dibalut stigma dan prasangka sosial. Di balik sorotan lampu disko dan dentuman musik yang menggoda, tersimpan realitas kompleks yang tidak selalu sejalan dengan mitos-mitos yang beredar di masyarakat.
Salah satu perumpamaan klasik yang sering terdengar adalah ungkapan, “laki-laki nakal akan miskin, perempuan nakal akan kaya.” Ungkapan ini kerap dianggap sebagai kebenaran umum, padahal jika ditelaah lebih dalam, ia lebih mencerminkan bias gender dan cara pandang simplistik terhadap dunia malam.
Dalam narasi populer, “laki-laki nakal” digambarkan sebagai pemburu kesenangan instan. Mereka identik dengan pesta tanpa henti, konsumsi alkohol berlebihan, dan gaya hidup hedonis yang menguras dompet. Malam demi malam dihabiskan untuk kepuasan sesaat, tanpa perencanaan jangka panjang.
Gaya hidup tersebut sering kali menjebak mereka dalam siklus yang tidak produktif. Penghasilan yang diperoleh habis untuk hiburan, tanpa dialokasikan pada tabungan, investasi, atau pengembangan diri. Akibatnya, ketika usia bertambah dan stamina menurun, tidak sedikit dari mereka yang tertinggal secara ekonomi. Kaya pengalaman, namun rapuh secara finansial.
Sebaliknya, perempuan dalam perumpamaan ini justru dilekatkan pada citra “nakal tetapi kaya”. Dalam konteks dunia malam, perempuan sering diposisikan sebagai pusat perhatian dan penggerak roda ekonomi. Pesona, kecakapan sosial, dan kemampuan membaca situasi menjadi modal yang dapat dikonversi menjadi penghasilan.
Namun, kekayaan yang dilekatkan pada perempuan dunia malam sering kali bersifat rapuh dan temporer. Ia sangat bergantung pada usia, penampilan, serta situasi sosial yang dapat berubah sewaktu-waktu. Lebih dari itu, narasi ini cenderung mengabaikan kecerdasan, strategi, dan ketahanan mental yang dibutuhkan perempuan untuk bertahan di lingkungan yang kompetitif dan berisiko tinggi.
Perumpamaan tersebut juga menyiratkan penghakiman moral. Kesuksesan finansial perempuan di dunia malam kerap dianggap sebagai hasil “kenakalan”, bukan buah dari kecerdasan mengelola relasi, keuangan, dan peluang. Pandangan ini mereduksi kompleksitas realitas menjadi label hitam-putih.
Pada akhirnya, anggapan bahwa laki-laki nakal pasti miskin dan perempuan nakal pasti kaya bukanlah hukum alam, melainkan cermin dari cara pandang masyarakat yang belum sepenuhnya adil. Dunia malam, seperti dunia pada umumnya, adalah ekosistem yang diwarnai pilihan, risiko, dan konsekuensi.
Ada laki-laki yang tenggelam dalam hedonisme, tetapi ada pula yang mampu membangun jejaring dan bisnis. Ada perempuan yang kehilangan segalanya, namun tak sedikit yang berhasil keluar dengan fondasi ekonomi yang kuat.
Kesuksesan dan kegagalan tidak ditentukan oleh label “nakal” atau “baik”, melainkan oleh kemampuan mengelola diri, mengambil keputusan, dan menghadapi realitas. Dunia malam hanyalah panggung; bagaimana seseorang melangkah di atasnya, itulah yang menentukan akhir cerita.

