Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Rabu, 18 Februari 2026, 1:07:00 PM WIB
Last Updated 2026-02-18T06:07:09Z
BERITA UMUMNEWS

Isu Kenaikan Pajak Ramai di Medsos, Penerimaan Samsat Salatiga Turun 7 Persen di Awal 2026

Advertisement


Laporan : Goent 


SALATIGA|MatalensaNews.com – Isu kenaikan pajak kendaraan bermotor yang beredar di media sosial memantik beragam komentar warga. Sejumlah unggahan bernada protes muncul di berbagai platform. Meski demikian, aktivitas pelayanan pembayaran pajak di Samsat Salatiga tetap berlangsung ramai.


Kepala UPPD Salatiga, Amar Ustadi Abdullah, mengakui adanya respons negatif dari masyarakat di media sosial.


“Di medsos memang ada komentar-komentar,” kata Amar saat ditemui awak media, Rabu (18/2/2026) di ruang kerjanya.


“Sifatnya negatif, ya,” tuturnya.


Menurut Amar, isu tersebut memang berdampak, namun tidak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.


“Ada pengaruhnya, tapi sedikit,” ujarnya.


Bahkan, ia menegaskan antusiasme masyarakat untuk membayar pajak masih cukup tinggi.


“Wajib pajak masih antusias membayar pajak,” terang Amar.


Data penerimaan pajak kendaraan bermotor pada Januari 2025 tercatat sebesar Rp 6,5 miliar. Sementara pada Januari 2026 turun menjadi Rp 6,2 miliar.


“Memang di Januari 2026 ada penurunan sekitar Rp 308 juta,” kata Amar.


Penurunan tersebut sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun demikian, pihaknya belum dapat memastikan apakah turunnya penerimaan dipengaruhi langsung oleh isu kenaikan pajak atau faktor lainnya.


“Belum bisa memastikan apakah ini karena pengaruh isu itu atau ada faktor lain,” ujarnya.


Ia menjelaskan, komposisi objek pajak kendaraan di Salatiga didominasi sepeda motor, yakni sekitar 87 persen. Penunggakan pajak terjadi baik pada kendaraan roda dua maupun roda empat.


Amar juga menyinggung keberadaan kendaraan listrik yang saat ini dibebaskan dari pajak kendaraan bermotor.


“Kendaraan listrik pajaknya 0,” katanya.


Tercatat sekitar 50 unit roda dua listrik terdaftar. Kondisi tersebut turut memengaruhi struktur penerimaan.


“Secara jumlah objek meningkat, tapi secara penerimaan pajak kita turun,” ujar Amar.


Untuk capaian tahun 2025, realisasi penerimaan pajak di Salatiga justru melampaui target.


“Masih memenuhi 112 persen,” kata Amar.


Namun, tren awal 2026 menjadi perhatian serius pihaknya.


“Ini menjadi warning untuk kita,” ujarnya.


Sebagai langkah antisipasi, UPPD Salatiga melakukan berbagai upaya, mulai dari edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat hingga penagihan langsung.


“Penagihan door to door kepada wajib pajak yang menunggak,” kata Amar.


Selain itu, razia gabungan bersama kepolisian juga terus dilakukan.


“Untuk kepatuhan berkendara maupun kepatuhan bayar pajak,” ujarnya.


Di sisi lain, sejumlah warga tetap datang membayar kewajibannya. Salah seorang wajib pajak menyatakan kepatuhannya terhadap aturan pemerintah.


“Harus seharusnya kan bayar pajak itu mengikuti aturan pemerintahnya,” katanya.


Ia mengaku tidak mengetahui secara detail besaran kenaikan pajak yang menjadi perbincangan.


“Nggak tahu naik berapa, yang penting bayar pajak itu,” bebernya.


Warga Pabelan, Muhammad Anwar Romdhon, juga memilih tetap patuh membayar pajak kendaraannya.


“Mau gimana lagi ya, Mas, nggak ada pilihan lain,” kata Anwar.


Meski demikian, ia berharap kebijakan pajak ke depan tidak terus mengalami kenaikan.


“Semoga nggak naik terus,” ujarnya.