Advertisement
Dalam pemberitaan tersebut, muncul tudingan adanya tindakan kekerasan, pungutan liar (pungli), hingga dugaan aktivitas narkoba yang melibatkan oknum petugas. Namun, Agus menyebut pengalamannya selama menjalani hukuman di Lapas Klaten berbeda dengan informasi yang saat ini beredar.
“Saat saya menjalani hukuman, pelayanan petugas sangat bagus. Baik dari segi makanan maupun perlakuan terhadap narapidana, semuanya baik-baik saja,” ujar Agus, Kamis (12/2/2026).
Agus yang juga mantan Kepala Desa Kebondalem periode 2013–2019 itu menuturkan, selama dirinya berada di dalam lapas, tidak pernah mengalami ataupun melihat adanya perlakuan semena-mena terhadap warga binaan.
Ia juga menyinggung sosok Kepala Lapas Klaten saat itu, Ahmad Fauzi, yang menurutnya dikenal tegas dan memiliki komitmen kuat dalam menegakkan disiplin di lingkungan pemasyarakatan.
“Beliau orangnya baik dan tegas. Prinsipnya jelas, tidak boleh ada petugas yang memperlakukan narapidana secara sembrono,” katanya.
Salah satu hal yang masih diingat Agus adalah pembangunan masjid di dalam area lapas pada masa kepemimpinan tersebut. Ia menegaskan, pembangunan fasilitas ibadah itu bukan atas nama pribadi pejabat tertentu.
“Masjid itu dibangun atas kesadaran dan kerja sama para relawan narapidana sendiri. Tujuannya agar para napi bisa menyadari pentingnya nilai-nilai keagamaan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” jelasnya.
Lebih lanjut, Agus berharap pengelola Lapas Klaten saat ini tetap mengedepankan prinsip pelayanan yang baik dan memanusiakan setiap warga binaan, baik dalam hal kualitas makanan maupun perlakuan sehari-hari.
“Mereka para napi sejatinya ingin menjadi lebih baik dan kembali berintegrasi dengan masyarakat,” ungkapnya.
Selain menanggapi isu yang beredar, Agus juga menyampaikan pesan kepada para pejabat publik, khususnya kepala desa yang masih aktif menjabat, agar berhati-hati dalam mengelola amanah jabatan.
“Manfaatkan jabatan dengan sebaik-baiknya dan berpikir matang sebelum melakukan tindakan korupsi. Jika terjadi korupsi, dampak terbesar tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga keluarga yang akan terpukul secara mendalam hingga mengalami gangguan psikologis,” tandasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Lapas Klaten belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan dugaan perlakuan tidak sesuai dan dugaan keterlibatan oknum petugas sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan yang viral tersebut. (Vio Sari)

