Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Selasa, 03 Februari 2026, 9:45:00 PM WIB
Last Updated 2026-02-03T14:45:35Z
BERITA UMUMNEWS

Menteri LH Ungkap Penurunan Tanah Pesisir Mengkhawatirkan, Demak Turun Hampir 10 Cm per Tahun

Advertisement


Jakarta |MatalensaNwws.com- Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan kondisi lingkungan pesisir Indonesia yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut hampir seluruh wilayah pesisir mengalami penurunan muka tanah dengan tingkat kedalaman yang berbeda-beda.


Salah satu contoh yang disorot adalah Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Berdasarkan pemantauan terbaru, wilayah tersebut mengalami penurunan muka tanah hampir 10 sentimeter hanya dalam waktu satu tahun.


“Sepertinya hampir di seluruh pesisir ya, dengan tingkat kedalaman penurunannya berbeda-beda. Seumpama di Demak, itu kemarin kita lihat hampir 10 cm dalam 1 tahun,” kata Hanif saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (3/2/2026).


Tak hanya Demak, Hanif juga menyoroti kondisi Jakarta yang dinilai jauh lebih mengkhawatirkan. Menurutnya, masifnya pengambilan air tanah menjadi faktor utama terjadinya penurunan muka tanah di wilayah ibu kota.


Untuk itu, ia menilai perlu adanya pembatasan yang ketat terhadap pengambilan air tanah, khususnya di Pulau Jawa. Salah satu solusi yang didorong pemerintah adalah pembangunan sistem pengolahan air permukaan sebagai alternatif utama sumber air.


“Sejatinya memang air tanah di Jawa harus benar-benar dibatasi, atau kalau boleh dikatakan dikurangi habis, dan kita harus segera membangun air permukaan semacam yang sudah sering diomongkan teman-teman yang lain, seperti air mineral,” ujarnya.


Hanif menambahkan, saat ini pengelolaan air mineral kemasan seharusnya tidak lagi bersumber dari air tanah, melainkan berasal dari pengolahan air permukaan. Menurutnya, langkah tersebut menjadi simbol penting dari keberlanjutan lingkungan.


“Pengelolaan air permukaan sebagai sumber air mineral, air kemasan, itu sebenarnya menjadi suatu simbol tentang berlangsungnya suatu kesinambungan,” jelasnya.


Ia mengingatkan, dampak lingkungan akan semakin serius apabila pengambilan air tanah terus dilakukan secara masif tanpa pengendalian. Oleh karena itu, Hanif mengajak perusahaan air mineral kemasan maupun perusahaan yang melakukan pengeboran air dalam skala besar untuk turut bertanggung jawab.


Bentuk tanggung jawab tersebut, lanjut Hanif, dapat dilakukan melalui kompensasi berupa rehabilitasi dan pemulihan ekosistem sungai serta danau.


“Ini menjadi satu keniscayaan, karena kalau terus diproduksi airnya, digunakan, kita tidak tahu seberapa mampu kita akan bertahan. Secara umum daya dukung dan daya tampung air tanah kita sudah jauh berkurang, bahkan melebihi kemampuan daya dukungnya,” pungkasnya.(Aris Yanto)