Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Senin, 09 Maret 2026, 9:55:00 PM WIB
Last Updated 2026-03-09T14:55:40Z
BERITA UMUMNEWS

Menu MBG di SPPG Plukisan Boyolali Disorot, Dinilai Tak Sesuai Anggaran Rp10.000 per Porsi

Advertisement


BOYOLALI|MATALENSANEWS.COM – Menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Plukisan, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Senin (9/3/2026), menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, menu yang diberikan kepada siswa dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan dalam program tersebut.


Program MBG sendiri dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah. Dengan anggaran sekitar Rp10.000 untuk porsi besar dan Rp8.000 untuk porsi kecil, publik berharap menu yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi dan kualitas yang layak.


Namun menu yang disajikan pada hari tersebut disebut hanya terdiri dari pisang ambon atau pisang tawi, bolu kukus aren, kacang telur, serta steak ayam ukuran kecil. Komposisi menu tersebut dinilai sebagian masyarakat belum mencerminkan nilai anggaran yang telah ditetapkan.


Kepala SPPG Plukisan Cepogo Boyolali, Fahrurozi, SE, saat ditemui awak media di ruang SPPG menjelaskan bahwa menu pada hari itu memang tidak mencapai nilai anggaran Rp10.000 untuk porsi besar.


“Menu hari ini memang tidak sampai Rp10.000 untuk porsi besar. Isinya pisang ambon atau tawi, bolu kukus aren, kacang telur, dan steak ayam kecil. Empat macam itu nilainya tidak sampai Rp8.000,” jelas Fahrurozi.


Ia menambahkan, untuk porsi kecil menu yang diberikan terdiri dari bolu kukus aren, kacang telur, dan steak ayam dengan nilai harga diperkirakan kurang dari Rp7.000. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari mekanisme subsidi silang dari anggaran menu pada hari sebelumnya atau pada menu di hari lain.


“Untuk porsi kecil terdiri bolu kukus aren, kacang telur, dan steak ayam dengan harga kurang dari Rp7.000. Itu untuk subsidi silang dari anggaran menu yang kemarin atau minggu ini,” ujarnya.



Meski demikian, kondisi tersebut memunculkan kritik dari sejumlah pihak yang menilai pengelolaan program harus dilakukan secara transparan dan profesional. Mengingat anggaran yang digunakan berasal dari dana negara, masyarakat berharap setiap rupiah benar-benar digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.


Sejumlah pihak juga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi terhadap operasional SPPG tersebut, termasuk menelusuri penggunaan anggaran menu, rantai pengadaan bahan makanan, serta memastikan standar gizi dalam program MBG tetap terjaga.


Masyarakat menilai program besar yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi generasi muda tidak boleh tercoreng oleh pengelolaan yang hanya berorientasi pada keuntungan semata.


“Jangan sampai program besar untuk masa depan gizi anak bangsa dirusak oleh pengelolaan yang hanya mementingkan bisnis untuk mengeruk keuntungan semata. Anak-anak berhak mendapat menu yang berkualitas dan sesuai standar harga untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka,” demikian salah satu kritik yang disampaikan terkait pelaksanaan program tersebut.(Goent)