Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Selasa, 03 Maret 2026, 11:05:00 PM WIB
Last Updated 2026-03-03T16:05:00Z
Luar NegeriNEWS

Qatar Tembak Jatuh Dua Jet Tempur Iran, Konflik Timur Tengah Kian Meluas

Advertisement


DOHA|MATALENSANEWS.COM-Pemerintah Qatar mengumumkan Angkatan Udaranya menembak jatuh dua jet tempur Iran untuk pertama kalinya pada Senin, di tengah meluasnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke kawasan Timur Tengah.


Kementerian Pertahanan Qatar dalam pernyataan resminya menyebut, dua pesawat tempur jenis Su-24 milik Iran berhasil ditembak jatuh. Selain itu, tujuh rudal balistik dan lima drone yang diluncurkan Teheran juga berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.


“Ancaman tersebut segera ditangani setelah terdeteksi, sesuai dengan rencana operasional, karena semua rudal ditembak jatuh sebelum mencapai targetnya,” demikian pernyataan kementerian, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (3/3/2026).


Pemerintah Qatar mengecam keras aksi Iran yang menargetkan wilayahnya dan menyebut serangan tersebut sebagai tindakan “sembrono dan tidak bertanggung jawab”. Qatar menjadi salah satu negara Teluk yang menjadi sasaran serangan balasan Teheran atas serangan gabungan AS-Israel yang dilaporkan menewaskan ratusan orang di seluruh Iran sejak Sabtu lalu.


Dalam beberapa hari terakhir, Iran melancarkan serangkaian serangan balasan terhadap target di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, serta sejumlah negara lain di kawasan. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran belum memberikan komentar resmi atas klaim Kementerian Pertahanan Qatar terkait penembakan dua jet tempurnya.


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, sebelumnya menegaskan bahwa Teheran berhak membela diri “dengan sekuat tenaga” sebagai respons atas serangan AS-Israel yang disebut telah menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.


“Angkatan Bersenjata Iran membela kedaulatan nasional dan integritas teritorial Iran terhadap tindakan agresi barbar ini,” ujar Baghaei kepada Al Jazeera.


Sementara itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, dalam konferensi pers pada Senin menyatakan bahwa respons Teheran bersifat “sah, perlu, dan proporsional”.


“Kami hanya menargetkan sasaran militer pasukan musuh. Kami tidak menargetkan warga sipil dan tidak menargetkan kepentingan negara-negara tetangga,” kata Iravani. Ia juga menegaskan bahwa berdasarkan hukum internasional, setiap negara memiliki kewajiban untuk tidak membiarkan wilayahnya digunakan untuk tindakan agresi terhadap negara lain.


Meski demikian, serangan Iran terhadap target AS dan Israel di berbagai wilayah Timur Tengah menuai kecaman luas serta memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.


Dalam pernyataan bersama pada Minggu, sejumlah negara kawasan bersama AS mengutuk apa yang mereka sebut sebagai serangan rudal dan drone yang “sembarangan dan sembrono” terhadap wilayah kedaulatan negara-negara di kawasan.


“Serangan yang tidak beralasan ini menargetkan wilayah kedaulatan, membahayakan penduduk sipil, dan merusak infrastruktur sipil,” demikian bunyi pernyataan tersebut, seraya menegaskan kembali hak masing-masing negara untuk membela diri.


Dampak konflik juga mulai terasa pada sektor energi. Perusahaan energi milik negara Qatar mengumumkan penghentian sementara produksi gas alam cair (LNG) akibat situasi keamanan. Langkah ini memicu lonjakan harga gas global, di mana harga gas grosir acuan Belanda dan Inggris melonjak hampir 50 persen, sementara harga LNG acuan Asia naik hampir 39 persen.


Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan dua drone berupaya menyerang kilang Ras Tanura pada Senin pagi. Kedua drone berhasil dicegat, namun insiden tersebut sempat memicu kebakaran kecil, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah setempat.


Situasi yang terus memanas ini meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi perang terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, dengan dampak signifikan terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global.(RI.1)