Advertisement
DEMAK|MATALENSANEWS.COM – Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Demak, Jawa Tengah, masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan siswa di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung.
Kepala Dinas Kesehatan Daerah Demak, Ali Maimun, mengatakan pihaknya telah mengirim sejumlah sampel ke laboratorium, tidak hanya makanan yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi juga sampel muntahan siswa yang mengalami gejala keracunan.
“Sampel yang kami kirimkan ke laboratorium tidak hanya makanan yang disajikan oleh SPPG, termasuk muntahan siswa yang diduga keracunan juga kami uji di laboratorium,” ujarnya di Demak, Selasa (21/4/2026).
Ia memperkirakan hasil uji laboratorium akan keluar dalam waktu tiga hingga empat hari setelah pengiriman sampel pada Minggu (19/4), menyusul munculnya keluhan seperti mual dan muntah dari para siswa.
Peristiwa ini diduga berkaitan dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa pada Sabtu (18/4). Menu tersebut terdiri dari nasi goreng, acar, telur ceplok, jeruk, dan susu kotak.
Dari sekitar 1.500 penerima manfaat program MBG di sejumlah sekolah, mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), MTs, hingga Madrasah Aliyah (MA), tercatat sebanyak 134 siswa mengalami gejala yang mengarah pada keracunan makanan. Rinciannya, 68 siswa sempat menjalani rawat inap dan 66 lainnya rawat jalan.
“Untuk saat ini jumlah siswa yang dirawat inap berkurang menjadi 61 orang karena sebagian sudah membaik dan diperbolehkan pulang,” jelasnya.
Berdasarkan hasil wawancara petugas kesehatan, diketahui bahwa tidak semua siswa langsung mengonsumsi makanan saat diterima. Ada yang menyantapnya pukul 10.00 WIB, pukul 13.00 WIB, setelah waktu Ashar, bahkan ada yang mengonsumsinya saat berbuka puasa.
Padahal, sesuai ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN), menu MBG seharusnya dikonsumsi di sekolah segera setelah diterima dari SPPG, dan tidak dianjurkan untuk dibawa pulang karena memiliki batas waktu kelayakan konsumsi.
“Untuk memastikan penyebab pastinya, kami tetap menunggu hasil uji laboratorium,” tegas Ali.
Ia menambahkan, kasus dugaan keracunan MBG ini merupakan yang pertama kali terjadi di Kabupaten Demak. Selama ini, pihaknya rutin melakukan pengawasan, mulai dari standar higiene, inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), hingga pemenuhan angka kecukupan gizi.
Pengawasan juga mencakup proses masuknya bahan baku, penyimpanan, pengolahan makanan, sterilisasi wadah (ompreng), kualitas air, hingga distribusi makanan kepada siswa.
Sementara itu, pascakejadian, operasional SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani di Desa Pilangwetan dihentikan sementara. Lokasi dapur penyedia MBG tersebut juga telah dipasangi garis polisi untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.(Arisyanto/Farid)

