Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Kamis, 09 April 2026, 10:25:00 PM WIB
Last Updated 2026-04-09T15:25:18Z
BERITA UMUMNEWS

Penerimaan Cukai Sempat Melambat, Kemenkeu Pastikan Tren Akan Membaik dalam Waktu Dekat

Advertisement


JAKARTA |MATALENSANEWS.COM-Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengungkap adanya dinamika dalam penerimaan cukai hasil tembakau pada awal tahun 2026. Hal ini dipengaruhi oleh strategi pelaku industri dalam mengatur pembelian pita cukai.


“Kalau dari sisi cukai hasil tembakau itu ada dinamika, mereka bisa mengatur pembelian dari pita cukai. Itu mereka gunakan. Tetapi nanti untuk beberapa bulan ke depan kita lihat ini trennya sudah membaik,” ujar Febrio di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat, Kamis (9/4).


Ia menjelaskan, kondisi tersebut turut mempengaruhi realisasi penerimaan negara pada kuartal I-2026 yang baru mencerminkan data hingga Maret. Menurutnya, pola ini bukan hal baru karena pelaku industri kerap memanfaatkan waktu pembelian pita cukai untuk mengatur arus kas dan produksi.


“Jadi data kemarin yang kita tunjukkan untuk Q1 itu kan sampai Maret ya. Nanti di April ini sebenarnya sudah ada data ini akan membaik, lebih baik dibandingkan yang bulan-bulan sebelumnya,” jelasnya.


Febrio menambahkan, tren perbaikan mulai terlihat seiring masuknya periode baru setelah tertundanya pembelian pita cukai. Dengan demikian, penerimaan negara dari sektor tersebut diperkirakan akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan.


Selain cukai, ia juga menyoroti penerimaan dari sektor kepabeanan lain yang sangat dipengaruhi kondisi global. Menurutnya, bea keluar mengikuti tren perdagangan internasional barang dan jasa, sementara bea masuk dipengaruhi oleh aktivitas impor.


“Untuk bea keluar ini dapat mengikuti tren perdagangan barang dan jasa internasional. Termasuk juga impor, yaitu ada bea masuk dan sebagainya,” ujarnya.


Ia menegaskan, meskipun terjadi fluktuasi pada awal tahun, arah penerimaan negara masih berada di jalur yang sesuai dengan target pemerintah.


“Ini masih par (setara) dan kita melihat arah untuk bea dan cukai sesuai dengan APBN 2026 itu akan tercapai,” tegasnya.


Secara keseluruhan, Febrio menilai dinamika penerimaan tersebut bersifat siklus dan teknis, bukan mencerminkan pelemahan fundamental. Penundaan pembelian pita cukai di awal tahun umumnya akan diikuti peningkatan realisasi pada periode berikutnya sehingga kinerja tahunan tetap terjaga.


Berdasarkan data Kementerian Keuangan, penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Februari 2026 mencapai Rp44,9 triliun atau sekitar 13,4 persen dari target APBN. Angka tersebut turun 14,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Kontribusi terbesar berasal dari cukai sebesar Rp34,4 triliun, meski mengalami penurunan 13,3 persen secara tahunan. Penurunan ini salah satunya dipengaruhi mekanisme pita cukai yang memungkinkan pelaku industri menunda pembelian dan pelekatan dalam jangka waktu tertentu.


Di sisi lain, penerimaan bea keluar juga mengalami penurunan signifikan akibat melemahnya harga komoditas seperti Crude Palm Oil, sementara bea masuk justru mencatat pertumbuhan seiring meningkatnya aktivitas impor.(Red/GT)