Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Minggu, 24 Mei 2026, 3:09:00 PM WIB
Last Updated 2026-05-24T08:09:41Z
BERITA PERISTIWANEWS

Magang Mau Cari Ilmu, Mahasiswi Mengaku Diduga Jadi Korban Pelecehan Oknum Advokat, ELBEHA Barometer: Kampus Harus Turun Tangan, Jangan Tunggu Viral

Advertisement

Gambar ilustrasi 

SALATIGA | MATALENSANEWS.COM – Program magang yang semestinya menjadi ruang belajar dan mengenal dunia profesi, justru disebut berubah menjadi pengalaman yang membuat seorang mahasiswi merasa tidak aman dan mengalami tekanan psikologis. Menyikapi pengakuan tersebut, ELBEHA Barometer meminta pihak kampus tidak memilih diam dan segera turun tangan melakukan penelusuran.


Ketua ELBEHA Barometer, Sri Hartono, menyampaikan keprihatinannya atas pengakuan mahasiswi yang diduga mengalami perlakuan tidak pantas saat menjalani praktik lapangan di sebuah kantor hukum.


Menurut Sri Hartono, berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut disebut sudah berlangsung beberapa bulan lalu. Namun ia mempertanyakan belum terlihatnya langkah nyata dari pihak kampus.


"Kami berharap pihak kampus turun tangan. Jangan nanti menunggu viral baru ambil sikap," kata Sri Hartono kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).


Ia menjelaskan, berdasarkan surat kronologi yang ditulis mahasiswi tersebut, korban mengaku mengalami situasi yang membuat dirinya merasa tidak aman dan terguncang secara psikologis selama mengikuti kegiatan magang. Dalam surat itu, mahasiswi meminta perlindungan sekaligus perpindahan lokasi praktik agar tetap dapat menjalani kewajiban akademik secara aman.


Dalam kronologi yang disampaikan, peristiwa bermula saat peserta magang mendapat tugas belajar menyusun surat kuasa di kantor. Pada siang hari, sebagian peserta disebut mendampingi kegiatan luar kantor, sementara mahasiswi tersebut bersama seorang rekannya menyelesaikan pekerjaan dan pulang lebih awal.


Namun beberapa jam kemudian, sekitar pukul 17.00 WIB, ia mengaku menerima telepon dari pembimbing magang yang meminta dirinya mendampingi pertemuan dengan klien di wilayah Gunungkidul.


Meski merasa terkejut karena perjalanan dilakukan hanya berdua dan dirinya baru beristirahat, ia mengaku tetap memenuhi permintaan tersebut karena mempertimbangkan relasi profesional dan posisi pihak yang meminta.


Di perjalanan, mahasiswi itu mengaku mulai merasa tidak nyaman akibat percakapan yang menurutnya bernada menggoda dan penggunaan sapaan tertentu yang dianggap tidak profesional. Ia juga mengaku sempat mengalami upaya kontak fisik yang langsung ditolaknya.


Setelah kegiatan dengan klien selesai dan berlangsung hingga malam, situasi yang menurut pengakuannya semakin menekan justru terjadi saat perjalanan pulang.


Dalam keterangannya, ia mengaku diajak berhenti di kawasan perbukitan dengan alasan beristirahat dan mengisi daya ponsel. Pada perjalanan berikutnya, mahasiswi tersebut menyebut mengalami tindakan fisik yang menurutnya tidak pantas dan tidak diinginkan.


Ia mengaku telah menunjukkan penolakan, berusaha menjauh, dan menyampaikan keberatan. Namun kondisi berada jauh dari lingkungan yang dikenal serta ponsel yang tidak dapat digunakan membuat dirinya merasa takut dan tidak berdaya.


Tak berhenti di situ, setibanya di Salatiga, mahasiswi tersebut juga mengaku diajak masuk ke sebuah hotel. Ia menyatakan telah menolak dan meminta diantar kembali ke tempat kos.


Atas pengalaman itu, mahasiswi tersebut mengaku mengalami tekanan psikologis dan khawatir kejadian serupa dapat terulang selama menjalani program magang.


Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak kampus maupun pihak yang disebut dalam pengakuan tersebut.


Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan pengakuan tertulis dari pihak yang mengaku mengalami kejadian. Seluruh dugaan dalam peristiwa ini tetap memerlukan klarifikasi dan penelusuran dari semua pihak terkait untuk memastikan kebenaran materiil.(TRI)