Advertisement
![]() |
| Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo |
Sebanyak 21 petani terlibat dalam pengembangan padi semi organik yang telah berjalan hampir tiga tahun. Program ini menjadi langkah awal menuju produksi beras sehat yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi para petani.
Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo, mengatakan pengembangan pertanian semi organik saat ini masih berada pada tahap transisi menuju produksi beras sehat.
"Ini masih semi organik menuju beras sehat. Untuk dem area ada 10 hektare dengan keterlibatan sekitar 21 petani," ujarnya.
Menurut Agus, hasil panen pada awal program berada di kisaran 6,7 ton per hektare. Namun, melalui perbaikan pola budidaya dan penerapan teknik pertanian yang lebih ramah lingkungan, produktivitas meningkat secara signifikan.
"Pada panen terakhir, hasil terbaik dari dem area 10 hektare berdasarkan pengubinan BPS mencapai 9 ton 24 kilogram per hektare. Sedangkan hasil terendah sekitar 8,2 ton per hektare," jelasnya.
Ia menilai peningkatan produktivitas tersebut menjadi indikator keberhasilan penerapan sistem budidaya semi organik. Meski demikian, tantangan berikutnya adalah meningkatkan nilai ekonomi hasil panen agar kesejahteraan petani ikut terdongkrak.
Selama ini, sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk gabah. Ke depan, Pemerintah Desa Kemetul menargetkan agar produk yang dipasarkan sudah berupa beras siap konsumsi sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.
"Harapan kami, hasil pertanian dari Desa Kemetul tidak hanya keluar dalam bentuk gabah, tetapi sudah menjadi beras. Dengan begitu nilai tambah bisa dirasakan petani," kata Agus.
Bidik Pasar Konsumen Menengah Atas
Agus mengungkapkan, beras semi organik memiliki peluang besar untuk menembus pasar konsumen yang lebih peduli terhadap kualitas dan kesehatan pangan.
Pihaknya telah mulai memperkenalkan produk beras semi organik ke sejumlah konsumen di Kota Semarang dan Kota Salatiga. Harga jual beras sehat tersebut mampu mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding beras biasa.
"Kami sudah mencoba pasar menengah ke atas. Untuk beras semi organik atau beras sehat bisa mencapai Rp20.000 per kilogram," ujarnya.
Meski demikian, pemasaran masih dilakukan secara terbatas melalui jaringan pertemanan dan relasi.
"Kami masih door to door mengenalkan produk kepada teman-teman dan jaringan yang ada. Ke depan tentu membutuhkan dukungan agar pemasaran bisa lebih luas," tambahnya.
Limbah Tahu Diolah Menjadi Pupuk Organik
Selain fokus pada budidaya padi semi organik, Desa Kemetul juga mengembangkan konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah tahu menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Menurut Agus, limbah tahu diolah menjadi pupuk organik cair (POC), kecap, biofit, hingga ampas tahu yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet pakan ternak.
"Dari pengolahan limbah tahu bisa menjadi pupuk organik cair, kecap, biofit, serta ampas tahu yang dimanfaatkan untuk pelet pakan ternak," jelasnya.
Produk pupuk organik cair tersebut telah melalui uji efektivitas dan uji mutu. Saat ini, proses pengurusan perizinan masih berlangsung sebelum produk dipasarkan secara lebih luas.
"Kami berharap ada dukungan pemerintah agar produk ini bisa berkembang dan memberikan manfaat lebih luas," katanya.
Sementara itu, Bupati Semarang, , sebelumnya menyampaikan bahwa pertanian semi organik terbukti mampu meningkatkan hasil produksi petani. Menurutnya, hasil panen padi semi organik dapat mencapai sekitar 9,2 ton gabah kering panen per hektare.
Pemerintah Kabupaten Semarang juga terus mendorong penerapan teknologi pertanian modern guna meningkatkan efisiensi biaya produksi, sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.(Goent)

