Advertisement
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengatakan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis sesuai tingkat keparahan kondisi masing-masing.
"Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru," kata Hakam, Sabtu (1/8/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar korban mendapatkan penanganan langsung di lingkungan sekolah oleh tim medis. Sementara itu, sembilan orang harus dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk menjalani observasi lebih lanjut.
"Dari jumlah tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi, sedangkan 9 orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut," ujarnya.
Hakam menegaskan, Dinkes Kota Semarang memastikan seluruh korban memperoleh penanganan yang tepat. Selain itu, pihaknya juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi dengan mengambil sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian untuk diperiksa di laboratorium.
Menurutnya, Dinkes juga terus berkoordinasi dengan pihak SMKN 6 Semarang, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Semarang Timur/Karangturi, Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri, serta instansi terkait lainnya guna mempercepat proses penelusuran penyebab dugaan keracunan tersebut.
"Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan," tegas Hakam.
Penghentian sementara distribusi makanan dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk mencegah munculnya kasus serupa, sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang akan menentukan penyebab pasti insiden tersebut. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil investigasi resmi dan tidak berspekulasi hingga seluruh proses pemeriksaan selesai.(Farid)

