Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Minggu, 13 September 2026, 8:04:00 PM WIB
Last Updated 2026-09-13T13:04:33Z
BERITA UMUMNEWS

Gunung Merapi Masih Siaga, Lava Pijar Meluncur 1,5 Kilometer ke Hulu Kali Krasak

Advertisement


YOGYAKARTA|
MATALENSANEWS.COM Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi. Dalam pemantauan selama enam jam pada Sabtu (12/9/2026), guguran lava pijar tercatat meluncur sejauh maksimal 1.500 meter ke arah barat daya, menuju hulu Kali Krasak yang berada di perbatasan wilayah Magelang dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.


Pemantauan dilakukan pada periode pukul 12.00 hingga 18.00 WIB. Hasil pengamatan menunjukkan aktivitas vulkanik Merapi masih tinggi dengan suplai magma yang berlangsung secara konsisten di dalam tubuh gunung.


Petugas pengamat Gunung Merapi, Suraji dan Yulianto, menyampaikan kondisi tersebut masih berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran (APG) di area bahaya.


“Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di area bahaya,” tulis Suraji dalam laporan pemantauan.


38 Gempa Tercatat dalam Enam Jam


Aktivitas kegempaan juga menunjukkan pergerakan magma yang masih kuat. Selama periode pengamatan, petugas mencatat 19 kali gempa fase banyak atau hybrid dengan amplitudo 2 hingga 25 milimeter dan durasi 18,01 hingga 58,72 detik.


Gempa hybrid tersebut menjadi salah satu indikator adanya pertumbuhan kubah lava maupun pergerakan magma yang terus menuju permukaan.


Selain gempa hybrid, tercatat pula 18 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 34 milimeter. Durasi gempa guguran terlama mencapai 154,08 detik.


Sementara itu, satu kali gempa vulkanik dangkal juga tercatat dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 16,19 detik.


Dengan demikian, selama enam jam pemantauan, total terdapat 38 kejadian gempa yang tercatat oleh petugas.


Dominasi gempa hybrid dan gempa guguran menunjukkan aktivitas material vulkanik di sekitar kubah lava masih cukup tinggi.


Lava Pijar Meluncur ke Arah Kali Krasak


Di tengah aktivitas kegempaan tersebut, petugas juga mencatat satu kali guguran lava pijar.


Guguran lava tersebut meluncur ke arah barat daya menuju hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.500 meter.


Arah luncuran tersebut membuat kawasan alur sungai tetap menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian dalam pemantauan aktivitas Gunung Merapi.


Aktivitas guguran lava dan suplai magma yang masih berlangsung juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan potensi terjadinya awan panas guguran.


Masyarakat Diminta Menjauhi Zona Bahaya


Dengan status Merapi yang masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya.


Potensi bahaya terutama mengarah ke sektor selatan hingga barat daya. Pada sektor tersebut, ancaman awan panas guguran dapat mencapai 5 kilometer di sepanjang Kali Boyong.


Sementara itu, potensi bahaya pada alur Kali Bedog, Kali Krasak, dan Kali Bebeng dapat mencapai 7 kilometer.


Untuk sektor tenggara, potensi bahaya meliputi alur Kali Woro hingga 3 kilometer dan Kali Gendol hingga 5 kilometer.


Selain ancaman awan panas guguran dan guguran lava, erupsi eksplosif juga berpotensi melontarkan material vulkanik hingga radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.


BPPTKG Minta Warga Ikuti Informasi Resmi


Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di sekitar puncak Gunung Merapi dilaporkan mendung dengan suhu udara berkisar antara 20,6 hingga 23,1 derajat Celsius.


BPPTKG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di dalam zona bahaya yang telah ditentukan. Warga juga diminta terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Merapi.


Dengan status Level III (Siaga) yang masih berlaku, aktivitas guguran lava pijar dan kegempaan menjadi perhatian utama. Petugas pemantau terus melakukan pengamatan terhadap pergerakan magma, pertumbuhan kubah lava, serta potensi guguran material yang sewaktu-waktu dapat memicu awan panas guguran.(Sofie Rahmawati)