Advertisement
Yogyakarta|MATALENSANEWS.COM– Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika. Berdasarkan hasil pengamatan pada Senin (26/10/2026) pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sebanyak 26 kali gempa guguran dan 7 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Data kegempaan tersebut menunjukkan aktivitas di kawasan Gunung Merapi masih berlangsung. Masyarakat yang tinggal di lereng gunung diimbau tetap waspada terhadap potensi bahaya, terutama guguran lava, awan panas guguran, dan lahar hujan.
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi terpantau cerah hingga mendung. Angin bertiup ke arah timur dengan suhu udara berkisar antara 21,2 hingga 23,5 derajat Celsius. Kelembapan udara tercatat 87–92,5 persen, sedangkan tekanan udara berada pada kisaran 874,9–918,4 mmHg.
Secara visual, Gunung Merapi teramati jelas hingga tertutup kabut dengan skala 0–III. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tebal juga teramati, dengan ketinggian tercatat 0 meter di atas puncak kawah.
26 Gempa Guguran Terekam
Berdasarkan laporan pengamatan yang disusun Suratno dan Yulianto, kegempaan Gunung Merapi didominasi gempa guguran.
Sebanyak 26 kali gempa guguran tercatat dengan amplitudo 2–20 milimeter dan durasi 39,64–146,07 detik.
Gempa guguran berkaitan dengan pergerakan atau runtuhnya material di tubuh gunung, termasuk material lava yang tidak stabil di area puncak. Aktivitas tersebut menjadi salah satu parameter yang dipantau untuk mengevaluasi potensi bahaya di sekitar Merapi.
Selain itu, tercatat tujuh kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 9–40 milimeter, nilai S-P 0,2–0,9 detik, serta durasi 13,53–20,67 detik.
Gempa hybrid merupakan salah satu jenis kegempaan yang dapat berkaitan dengan proses pergerakan fluida dan rekahan di dalam tubuh gunung api. Namun, data tersebut tidak dapat digunakan secara tunggal untuk memastikan adanya peningkatan suplai magma atau memprediksi terjadinya letusan.
Hasil pemantauan kegempaan tersebut menjadi bagian penting dalam pengamatan aktivitas Gunung Merapi secara berkelanjutan.
Status Gunung Merapi Level III atau Siaga
Dalam laporan pengamatan tersebut, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Status ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih memerlukan perhatian serius. Masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta mematuhi rekomendasi resmi dan tidak melakukan aktivitas di wilayah yang masuk zona bahaya.
Potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran terutama mengancam sektor selatan hingga barat daya, meliputi aliran Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mengarah ke Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar kawasan tersebut perlu memperhatikan perkembangan aktivitas Merapi dan mengikuti arahan petugas berwenang.
Warga Diminta Waspada Awan Panas dan Lahar Hujan
Selain ancaman guguran lava dan awan panas guguran, masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan, khususnya ketika hujan mengguyur kawasan puncak dan lereng Gunung Merapi.
Material vulkanik yang berada di sekitar puncak maupun alur sungai dapat terbawa aliran air dan bergerak menuruni sungai dengan cepat. Kondisi tersebut berpotensi membahayakan warga yang beraktivitas di sekitar aliran sungai berhulu di Merapi.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di wilayah yang masuk dalam rekomendasi zona bahaya, terutama di alur sungai yang berpotensi dilalui awan panas guguran maupun lahar.
Warga juga perlu mengantisipasi dampak hujan abu vulkanik dengan menyiapkan masker serta melindungi sumber air bersih dan tempat penampungan air agar tidak terkontaminasi abu.
Perkembangan aktivitas Gunung Merapi harus terus dipantau melalui informasi resmi BPPTKG dan instansi terkait. Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, evaluasi terhadap tingkat aktivitas dan rekomendasi bahaya dapat dilakukan sesuai hasil pemantauan.
Masyarakat di lereng Merapi diharapkan tidak hanya mengandalkan pengamatan visual, tetapi juga memperhatikan informasi resmi dan peringatan dari petugas.
Meski kondisi gunung terkadang terlihat tenang dari kejauhan, aktivitas vulkanik tetap perlu diwaspadai. Kesiapsiagaan, kepatuhan terhadap rekomendasi, serta pemahaman mengenai potensi bahaya menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Gunung Merapi.(Sofie Rahmawati)

