Jika KPK Punya Nyali, Silahkan Tangkap Ke Dua Pimpinan Sula dan Taliabu -->

Header Menu


Jika KPK Punya Nyali, Silahkan Tangkap Ke Dua Pimpinan Sula dan Taliabu

Thursday, November 25, 2021


JAKARTA,MATALENSANEWS.com - Hari ini mendadak teman ngundang ngopi. Karena saya suka yang gratisan, maka tak mungkin ditolak. Apalagi sudah lama tak ketemu, ini jadi kesempatan untuk silaturahmi.


Ketika lokasi ngopinya dibilangan Kuningan, Jakarta Selatan dekat gedung anti rasuah, saya sudah mulai curiga. Tapi demi kopi gratis, saya pun tak keberatan.


Setiba dilokasi, belum juga mesan kopi sudah diajak lagi untuk ketemu teman yang lain. Tempatnya juga tidak jauh dari tempat saya diundang untuk ngopi. Sebagai teman yang baik, pastinya saya ikut agar tidak mengecewakan.


Lewat di depan gedung KPK, sudah berjejer rapi puluhan polisi. Mengawal mahasiswa dan pemuda yang akan menyampaikan aspirasinya. Mereka adalah pengurus Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dari DPD DKI Jakarta dan Maluku Utara. Mereka menuntut berbagai persoalan dengan segala tetebengenya ( banyak masalah) di Maluku Utara." tulis Syaris Tomia di akun Facebook, Rabu 24 November 2021.


Lanjut dia, Saya pun diundang untuk menyanyi. Selain hobby, selama pandemi covid 19 family karaoke juga belum dibuka bebas, saya pun ambil mix. Apalagi sumbang suara disini juga tidak berbayar, alias gratis.


Saya merasa dijebak, tapi begitulah adanya. Budaya yang sejak dulu tak pernah hilang diorganisasi. Semasa aktif, sering saya di undang untuk hadir dalam acara pembukaan Basic Training (LK I) HMI . 


Sebagai undangan, idealnya hanya datang dan duduk manis. Tapi ketika perangkat acara yang sudah ditugaskan berhalangan hadir, maka bersiaplah untuk menggantikan perannya. 


Kadang perangkat acara juga sengaja dikosongkan atau disusun saat acara akan dimulai. Panitia biasanya sudah mengintip siapa undangan yang hadir dan dianggap punya kemampuan untuk mengisi acara. 


Sebagai undangan, pernah tiba-tiba saya ditunjuk menjadi pembaca doa saat acara sementara berlangsung, padahal tidak ada konfirmasi sebelumnya sehingga tidak punya persiapan. Untungnya, ilmu semasa ikut pesantren kilat masih membekas, jika tidak semua bisa berantakan.



"Sering pula saya diundang untuk sekedar hadir dilokasi acara pengkaderan, tapi malah menggantikan narasumber yang berhalangan hadir," Sebut Syris. tambah dia,



Nyesal, gak ! Begitu juga dengan undangan ngopi hari ini. Saya justru berterimakasih, pula kepada GPM yang masih peduli dengan kondisi di Maluku Utara. 


Diatas mobil komando itu, yang saya nyanyikan bukan lagu yang mendayu-dayu. Yang bisa membuat penonton terbuai, apalagi kalimat-kalimat sanjungan. Karena bukan personil dari Soneta Band, pesannya juga bukan nasihat.


Saya begitu emosional ketika bernyanyi tentang kampung halaman, Taliabu. Jika saja diiringi dengan musik, sudah pasti nadanya tidak akan seirama. Tapi setidaknya, saya tidak terlalu kasar mencaci dan memaki pemimpin yang bejat itu." tutur Syaris 


Jika KPK punya nyali, silahkan tangkap pemimpin itu. Dia seperti anjing yang tidak hanya memakan daging tapi juga menggigit tulang rakyatnya. Dia bahkan seperti lintah, yang tega mengisap darah rakyatnya. 


Bagaimana tidak, realisasi APBD hanya 30 persen, sementara 70 persennya masuk kekantong pribadinya.


Uang rakyat hanya digunakan untuk memenuhi hasrat politik dinastinya. 


Tak puas dengan Adiknya jadi Bupati di Kepulauan Sula, Adiknya yang lain dipromosikan untuk Bupati Banggai Laut. 


"Biaya politiknya, tentu semua dari APBD karena tidak ada sumber penghasilannya yang lain." kata Syaris



Selanjutnya, Selama 2 periode dia menjabat, jalan teraspal di daerah yang dipimpinnya hanya sekitar 10 persen, kantor DPRD dan Kantor Bupati yang sudah hampir 1 dekade tidak kunjung selesai pembangunannya.


Semua kantor dinas sampai sekarang masih ngontrak sana sini, dan puluhan rumah ibadah: Masjid, Gereja dan bangunan PLTD mangkrak, sementara anggarannya sudah habis dimakan atau diguritanya.



Dana Desa setiap pencairan dipotong 60 juta, dan masih banyak indikasi kasus korupsi lainnya atas temuan BPK tahun 2019. Malah yang sudah jadi tersangka sengaja dilantik kembali jadi kepala Dinas karena takut kedoknya diungkap.


Dia juga tak pernah berfikir insaf. Dua saudara kandungnya harusnya sudah cukup menjadi contoh yang sementara ini sedang disekolahkan oleh lembaga anti rasuah ( KPK). 


Tapi karena hasrat yang membabi buta, dia tidak akan pernah berpikir untuk berhenti. 


Mungkin sudah jadi kutukan jika koruptor harus disekolahkan agar bisa bertobat.


Begitulah nyanyian saya diatas mobil komando demonstran itu. Di sore ini, jika ada istilah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. 


"Maka tepat, di undang ngopi sekaligus menyanyi." tegas Syaris didepan Gedung merah putih (KPK). Rabu 24/11/2021.


Sambung dia, Walaupun merasa dijebak, tapi saya dijebak untuk membebaskan diri dari dosa sosial. Kata para idealis, mendiamkan koruptor sama dengan mendukung koruptor itu sendiri. 


Dan kopi gratis dari teman yang dijanjikan itu tetap saja saya tagih. Karena sang idealis harus komitmen, walaupun itu hanya segelas kopi.


( Jek/Redaksi)