Umar bin Ahmad bin Abdurohman Al Aidid Dalam Diskusinya Menyampaikan Jasa Guru Ngaji Sering Terlupakan -->

Header Menu

Umar bin Ahmad bin Abdurohman Al Aidid Dalam Diskusinya Menyampaikan Jasa Guru Ngaji Sering Terlupakan

Friday, November 26, 2021


Opini,MATALENSANEWS.com- Mungkin guru ngaji kita seorang ustadz yang sederhana.tidak rupawan, tidak ahli ceramah,Tidak gajian.

Bahkan Tidak punya gelar pendidikan dan Tidak dikenal banyak orang.

Tidak pernah tampil di tv, radio dan koran.

Dan Mungkin penampilannya kampungan.


Di mata dunia beliau mungkin juga tidak diperhitungkan 

Tapi ingatlah jasa-jasa luar biasa guru ngaji kita yang tidak bisa dinilai dengan apapun. 


Jika iman adalah jalan keselamatan, ketenangan dan kebahagiaan dunia akhirat, guru ngaji kitalah yang menanamkannya pada kita.


Jika isi otak, hati dan jiwa manusia lebih utama dari pada isi perut manusia. Guru ngaji kitalah yang telah mengisi ilmu dan ruhiyah otak, hati dan jiwa kita. 


Jika surga adalah ukuran suksesnya manusia.

Guru ngaji kitalah yang gigih mengarahkan kita ke jalan surga.


Jika orang tua hanya menyuruh kita beribadah,guru ngaji kitalah yang mengajarkan kita segala macam ibadah


Jika Al-Qur'an adalah pedoman hidup kita, lezat membacanya, ni'mat mentadabburinya, 


Dan hindarilah beberapa penyakit hati untuk menghindari hal-hal berikut semagamaina dijelaskan Umar bin arahman bin Abdulloh Al Aidid


1 RIYA'  (Aktivitasnya ingin dilihat & dipuji orang lain).


2. SUM'AH (Maunyaingin selalu didengar orang lain). 


3. 'UJUB (Merasa bangga dengan kelebihan diri dalam hal rupa / ilmu). 


4. FAKHR  (Merasa bangga dengan kelebihan harta & tahta yang dimiliki). 

 

5.IKHTIYAL (Merasa ingin tidak tersaingi oleh orang lain, dan selalu ingintampil berbeda). 


6. TASAHHUL  (Menganggap enteng orang lain /meremehkannya. 


7. ANANIYAH (Egois / mementingkan diri sendiri.


8. SYUHH ( _Kikir jiwa_) 


dengan 5 ciri;▪ Selalu mengingat-ingat kelebihan /kebaikan dirinya. ▪ Mudah sekali  melupakan kebaikan orang lain terhadapnya. ▪ Jika ia salah, tidak pernah mau minta maaf. ▪ Jika orang lain salah, tidak mau memaafkan.▪ Orang lain harus menuruti keinginannya, sebaliknya dia tidak peduli dengan keinginan orang lain.


Sumber: Umar bin Ahmad bin Abdulloh Al Aidid


(Fery, Vio Sari, Red )