Miris, SMK PGRI2 Kota Salatiga Tak Mau Bayar Upah Buruh Bangunan Lepas -->

Header Menu

Miris, SMK PGRI2 Kota Salatiga Tak Mau Bayar Upah Buruh Bangunan Lepas

Thursday, April 7, 2022

Foto : Smk PGRI2 Salatiga

SALATIGA,MATALENSANEWS.com-Profesi tukang bangunan rata-rata menggunakan perjanjian tak tertulis ketika melakukan kesepakatan kontrak kerja. Kebanyakan sang tukang bekerja dahulu kemudian setelah sekian waktu atau setelah proyek selesai baru dibayar, Kamis (7/4/2022)


Jadi kekuatan perjanjian tersebut ada pada etika baik kedua belah pihak yaitu pemberi kerja entah itu pemilik rumah, mandor, pemborong atau kontraktor dengan tukang bangunan. 


Nah, akan jadi masalah besar ketika sang pemberi kerja melarikan diri sehingga tukang bangunan yang telah capek bekerja tapi tidak mendapat bayaran sepeserpun. Untuk menuntut secara hukum juga lemah, karena bisa jadi biaya menuntut itu mahal ditambah lagi kurangnya ilmu pengetahuan tentang hukum jadi tidak bisa menempuh jalur tersebut. 


Yang terjadi adalah menggerutu tanpa hasil atau bahkan menangis batin karena kehilangan nafkah yang seharusnya diberikan untuk keluarga. Padahal banyak pekerja bangunan yang sumber penghasilanya hanya mengandalkan hasil kerja dibidang konstruksi ini.


"Hal ini terjadi dengan para tenaga buruh lepas bangunan yang mengerjakan Sapiteng di SMK PGRI 2 Kota Salatiga."


Guntur menyampaikan bahwa pekerjaan dengan borongan pembuatan sapiteng dengan nilai kesepakatan Rp 600.000; (Enam Ratus Ribu Rupiah) yang diperintahkan oleh pihak sekolah hal ini SMK PGRI2 Kota Salatiga yang diwakili SARPRAS (Mahmud) ingkar janji.


Bahkan uang kesepakatan pembuatan sapiteng serupiahpun gidak dibayar."Kami akan segera melaporkan perbuatan keji dan tidak berperasaan pihak sekolah,hal ini SMK PGRI2 Kota Salatiga kepada pihak terkait dalam hal ini APH," ujar Guntur.


Dia menyesalkan pihak sekolahan (SMK PGRI2) yang hanya membayarkan dengan janji. "Bahkan kita hanya disuruh ketemu bendahara dan nanti cuma dilempar ketemu SARPRAS" Ungkap Guntur kepada awak media.


Dengan demikian, Guntur lantas akan membawa perkara ini ke jalur hukum dengan harapan agar pihak kepolisian dapat menindaklanjuti pelaporan ini.


Saat dikonfirmasi terkait pembayaran upah buruh pembuatan sapiteng, pihak SMK PGRI2 Kota Salatiga (Mahmud) melalui pesan Watshap membalas dengan "Minta bendahara, Mbak Lastri, tapi acc dulu Bp. Kasek,Nggedabul,Terus uang air, listrik, keamanan gimana? Kempros".


Dari bahasa seorang pendidik, apakah pantas dengan perbuatan maupun perkataannya..??? (RED)