NYAI AGENG NGERANG, Dukuh Ngerang, Tambakromo, Kec. Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah -->

Header Menu

 


NYAI AGENG NGERANG, Dukuh Ngerang, Tambakromo, Kec. Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah

Tuesday, July 26, 2022


Oleh : Sofyan Mohammad

MATALENSANEWS.com-Pedukuhan Ngerang Desa Tambakromo Kecamatan Tambakrono Kabupaten Pati Jawa Tengah adalah salah satu jejak sejarah yang cukup penting. Sebab di dukuh ini terdapat makam ulama wanita yang sangat berpengaruh pada paruh abad XV silam.  Nyai Ageng Ngerang tersohor sebagai seorang ulama wanita yang keramat nan mulia. 


Nyai Ageng Ngerang berikut telah menorehkan kisah, sepanjang hidupnya telah berjuang menyiarkan agama Islam di kawasan Pegunungan Kendeng Juwana hingga wilayah Tambakromo Pati dan sekitarnya hingga akhir hayatnya.


Nyai Ageng Ngerang dan suaminya yaitu Ki Ageng Ngerang sudah terkenal sebagai pasangan suami istri yang sama sama berilmu tinggi dalam hal keagamaan dan kebijaksanaan hidup. Konon dikisahkan sampai sampai Sunan Muria dan Sunan Kudus pun sempat berguru di Padepokan yang diasuh oleh pasangan suami istri ini. 


Para santri hasil pendidikan padepokan Ngerang disebut sebut telah melahirkan banyak tokoh tokoh sakti dan linuwih yang menyebar dibeberapa daerah di pulau Jawa mulai bang wetan, tengah hingga pasundan. 


Kisah hidup Ki Ageng Ngerang dan Nyai Ageng Ngerang adalah semasa dengan Walisongo pada era Kerajaan Demak Bintoro (1478 - 1547) hingga tersebutlah kisah legendaris tentang pernikahan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono. 


Dalam suatu kisah insiden penculikan putri pasangan Kyai dan Nyai Ageng Ngerang yaitu Dewi Roroyono yang dilakukan oleh sosok yang bernama Ki Pathak Warak dari Kediri. Cerita bermula dalam suatu acara yang dihelat di Padepokan Ngerang. 


Karena sayembara dari Ki Ageng Ngerang maka Dewi Roroyono dapat diselamatkan oleh Sunan Muria melalui adik seperguruanya yaitu Ki Kapa dan Ki Genthiri yang melibatkan resi Wiku Lodhang. 


Dalam berbagai drama yang berlangsung Dewi Roroyono akhirnya menjadi Istri Sunan Muria untuk diboyong ke Pesantren dipuncak Gunung Muria. 


Kawasan gunung kendeng di Juwana Pati menjadi pilihan untuk bersyiar tauhid Islam sekaligus tempat mendirikan padepokan atau pesantren oleh pasangan Ki Ageng Ngerang dan Nyai Ageng Ngerang tentu saja ada banyak faktor yang melatar belakangi. 


Salah satu sebab diantaranya telah di riwiyatkan jika keduanya sejak dahulu telah dekat dengan tokoh legendaris yaitu Syekh Siti Jenar, seorang guru sekaligus pelaku spiritual yang dikenal telah mengajarkan konsep "manunggaling kawulo gusti" yang dirumuskan dalam pokok ajaran dengan mengabsolutkan pendapat tentang manusia hakiki, tentang hubungan antara manusia yang kodrat irodrat, tentang segala yang ada di dunia adalah satu dan hidup dan tentang pemahaman ilmu sejati. Dalam hal ini Syeh Siti Jenar dianggap telah mengajarkan agama sebagai jalan hidup dan bukan sebagai kepercayaan. 


Ajaran tersebut telah menimbulkan polemik diantara anggota Dewan Walisongo khususnya gonjang ganjing dalam konstelasi kekuasaan Demak Bintoro. Diketahui para pengamal ajaran Syeh Siti Jenar ternyata berasal dari berbagai lapisan masyarakat baik masyarakat dari golongan sudra atau kawulo alit hingga para pejabat atau kalangan para Priyagung Kerajaan. 


Tersebarnya ajaran Syech Lemahbang ini dikawatirkan akan merusak tatanan kehidupan masyarakat, terlebih bagi Kerajaan Demak pada saat itu menginginkan berlakunya tata kehidupan ideal masyarakat yang islami. Nampaknya proses Dakwah kala itu berlangsung secara berhadap hadapaan dengan adat istiadat dan keyakinan lama masyarakat Jawa yang telah mapan pada saat itu. 


Sebab hal tersebut hingga dikisahkan Syeh Siti Jenar harus menjalani proses pidana dengan hukuman mati oleh otoritas kekuasaan Demak Bintoro. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk menghentikan masiifnya penyebaran ajarannya.


Untuk menghindari "awu anget" atau dampak polemik tersebut lantas dikisahkan Ki Ageng Ngerang dan Nyai Ageng Ngerang lebih memilih untuk menepi dikawasan pegunungan kendeng yang masuk wilayah Pati. 


Pada era itu Juwana sedang berkembang sebagai kota pelabuhan. Letak geografis yang berada di tepi laut Jawa sangat berpengaruh dalam perdagangan rempah dan hasil bumi lainnya di Nusantara, khususnya Pulau Jawa. 


Ramainya aktivitas dagang di pesisir utara Pulau Jawa waktu itu menjadikan pelabuhan Juwana telah dikenal luas sebagai pelabuhan dalam perdagangan rempah di pesisir utara Jawa, karena menjadi penghubung antar titik pusat rempah Nusantara dan karena menyediakan kapal dagang, kapal perang, kapal sewa hingga tersohor dengan produk galangan kapal terbaik.


Selain dari pada itu secara kosmik kawasan pegunungan kendeng juga menyimpan vibrasi positif sebagai peradaban manusia Jawa kuno. Hal ini setidaknya dapat terlacak pada jejak berupa sembilan makam terbuat dari batu berukuran besar di Gunung Plontang, Kendeng utara. Di titik ketinggian kurang lebih 350 meter dari permukaan laut (dpl). Terdapat makam dengan nisan batu yang posisinya tidak lazim sebagaimana makam pada zaman sekarang dengan posisi kepala di utara dan menghadap kiblat. 


Diarea tersebut ditemukan nisan makam dalam posisi kepala ke arah timur dan kaki ke arah barat. Proses pemakaman seperti itu diduga adalah menganut konsepsi Chtonis yang meyakini jika arah timur merupakan arah matahari terbit sehingga bisa diartikan sebagai awal kehidupan. Sedangkan barat merupakan arah tenggelamnya matahari, yang dimaknai dengan akhir dari kehidupan.


Terlepas dari sudut pandang apapun maka kawasan tersebut diduga memiliki jejak sejarah yang panjang dengan menyisakan energi vibrasi postif dalam dimensi rohani. Pegunungan antiklinorium berarah barat-timur pada Zona Kendeng ini menjadi area wilayah untuk dakwah Islamiyah bagi Ki Ageng Ngerang dan Nyai Ageng Ngerang. 


Segala kemuliaan hidup Nyai Ageng Ngerang tidak terlepas dari sanad keilmuan agama yang lurus hingga tersambung pada Nabi Muhammad SAW. Sebab beliau sejak kecil sudah diasuh dan didik di Padepokan Tarub yang diasuh langsung oleh ayahnya yaitu Raden Bondan Kejawan atau Ki Ageng Tarub II dan ibunya Nyai Dewi Retno Nawangsih. 


Dua sosok orang tua Nyai Ageng Ngerang tersebut sudah tersohor akan kesaktian dan kedalaman ilmunya. Demikian dikisahkan hingga Kanjeng Sunan Kalijogo sering bertandang ke Padepokan Tarub untuk mewedar melalui tasriyah ilmu ilmu tingkat tinggi. 


Dengan demikian patut diyakini jika Nyai Ageng Ngerang juga merupakan salah satu murid yang telah meneguk manisnya ilmu penuh barokah dari Guru Suci Ing Tanah Jawi Kanjeng Sunan Kalijogo. 


Setelah dewasa Nyai Ageng Ngerang dipersunting oleh Muhammad Nurul Yaqin atau Ki Ageng Ngerang yang juga dikenal sebagai seorang yang sakti dan waskito sebab ketinggian ilmu agamanya. Hal ini semakin membuat sempurna kelimuan yang dimiliki oleh Nyai Ageng Ngerang. Terlebih segala ilmu itu dibabarkan melaui manifestasi syiar Islamiyah di padepokan atau pesantren Ngerang yang diasuh berdua sebagai pasangan suami istri. 



Nyai Ageng Ngerang adalah sosok ulama wanita yang hidup sezaman dengan era Walisongo. Beliau adalah legenda teladan tentang kealiman seorang ulama perempuan. Dikisahkan beliau adalah seorang perempuan yang ahli riyadloh dalam kepati amarsudi karena tekun istiqomah dalam berusaha. Sepanjang hidupnya telah menerapkan sudane hawa lan nepsu tapa brata tanapi ing siyang ratri yang dilakukan siang dan malam. 


Kedalaman ilmu Nyai Ageng Ngerang termanisfestasi dari perilaku hidupnya yang mulia. Segala kesaktianya menjadikan beliau sebagai sosok yang keramat, unggul dan pinilih sebagai seorang perempuan yang nulada laku utama (mencontohlah perilaku yang utama) dalam rangka amamangun karyenak tyasing sesami (berkarya membangun ketenteraman hati sesama). 


Hal yang selalu diingat oleh masyarakat sekitar tentang Nyai Ageng Ngerang adalah riwayat yang menyebutkan jika beliau semasa hidup adalah seorang wanita yang mampu secara tepat dan bernas bertindak dalam fitrah sebagai seorang istri dan ibu bagi anak anaknya namun pada sisi lain beliau juga seorang ulama perempuan yang selalu bertindak sabar dan kuat dalam menghadapi berbagai rintangan. Sifatnya dikenang sangat welas asih kepada siapapun bahkan kepada orang yang membenci dan menentang ajarannya, kemudian kepribadianya yang suka membela kebenaran dan menolong orang yang lemah dan papa. 


Pada era itu sikap dan tindakan dari pada Nyai Ageng Ngerang tentu telah mampu mendobrak kesadaran dan sangat inspiratif, sebab pada era itu agama masih dipahami dengan mengesampingkan prinsip dasar kehadiran agama secara subtantif seperti prinsip kesederajatan manusia, prinsip keadilan, prinsip kemaslahatan, dan prinsip pembelaan pada mereka yang dilemahkan. Padahal tanpa prinsip-prinsip dasar tersebut, agama tidak bisa melakukan perubahan kepada kondisi yang lebih baik.


Kisah hidup Nyai Ageng Ngerang waktu itu adalah bukti tentang adanya kesadaran jika perempuan adalah separuh jiwa bangsa dan umat manusia dengan potensinya yang besar dalam seluruh aspek kehidupan. 


Bila kita merendahkannya dan membiarkannya menjadi hina dina, maka itu adalah bentuk perendahan dan penghinaan kita atas diri kita sendiri dan kita rela dengan kehinadinaan kita. Bila kita mencintai dan menghormati dia serta bekerja untuk menyempurnakan eksistensinya,  maka sesungguhnya itu bentuk cinta. 


Selain sanad keilmuan yang lurus dan muktabar Nyai Ageng Ngerang juga ditunjang dengan paduan nasab yang mulia dalam dirinya yaitu nasab ulama dan nasab bangsawan mengalir dalam darah Nyai Ageng Ngerang. 


Dalam beberapa sumber sejarah disebutkan Nyai Ageng Ngerang diperkirakan lahir diakhir masa Kerajaan Majapahit yaitu sebelum tahun 1478 M. Nama kecil beliau adalah Dewi Roro Kasihan atau nama lengkapnya yaitu Nyai Siti Rohmah Roro Kasihan. Setelah tinggal di Pati beliau juga memiliki nama julukan lain yaitu Nyai Juminah. 


Beliau dilahirkan dari rahim Nyai Dewi Nawangsih yang merupakan putri dari bidadari Dewi Nawangwulan suami dari Joko Tarub. Sementara ayahnya adalah Dyah Lembu Peteng atau Raden Bondan Kejawan atau Ki Ageng Tarub II. Seperti telah ditulis dalam lembaran sejarah jika Raden Bondan Kejawan atau Arya Lembu Peteng adalah putra dari Prabu Brawijaya yang merupakan trah Rajasa dari pancer Ken Arok atau Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi pendiri Kerajaan Singhasari yang memerintah pada pada 1222 - 1227. 


Sedangkan Nyai Dewi Nawangwulan adalah putri dari Ki Ageng Tarub yang merupakan keturunan dari Syech Jumadil Kubro yang tersambung sampai al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. 


Sedangkan neneknya yaitu Dewi Roso Wulan diyakini bersaudara dengan Kanjeng Sunan Kalijogo sama sama anak dari Tumenggung Wilwatikta seorang Adipati Tuban. 


Ibu kandung dari pada Nyai Ageng Ngerang yaitu Nyai Dewi Nawangsih adalah putri dari Dewi Nawangwulan yang dikisahkan sebagai seorang bidadari kahyangan yang telah diperistri oleh Joko Tarub dalam drama pencurian selendang sakti oleh Joko Tarub ketika bidadari Dewi Nawangwulan dan para saudarinya sedang mandi di sebuah telaga. 


Kemulyaan nasab Nyai Ageng Ngerang juga disempurnakan sebab perkawinannya dengan Muhammad Nurul Yaqin atau Ki Ageng Ngerang. Dalam babad tanah Jawi hingga Serat centini menyebutkan jika Kyai Ageng Ngerang adalah putra dari Ki Ageng Jabung yang lahir diperkirakan sebelum tahun 1470 M dengan nama kecil Raden Ronggo Joyo setelah dewasa menjadi Muhammad Nurul Yaqin yang merupakan keturunan dari Syeh Maulana Magribi bin Syeh Jumadi Kubro bin Syeh Zaenal Khusein bin Syeh Zaenal Alim bin Syeh Zaenal Abidin bin Syeh Zaenal Nalim bin Sayidina Khusain bin Sayidatina Fatimah yang merupakan Putri dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW  dari jalur keluarga Bani Alawi Hadramaut. Nasab Ki Ageng Ngerang sendiri juga berkait dengan Sunan Ngudung dan Sunan Kudus. 



Dalam perkawinan antara Raden Ronggo Joyo atau Muhammad Nurul Yaqin atau Ki Ageng Ngerang dengan Nyai Siti Rohmah Roro Kasihan atau Nyai Ageng Ngerang tercatat memiliki keturunan yaitu :

1. Nyi Ageng Selo II atau Roro Kinasih menikah dengan Ki Ageng Selo, seorang tokoh legendaris yang mempunyai karomah dapat menangkap petir. Ki Ageng Selo adalah keponakan sekaligus menantu Nyai Ageng Ngerang. Keduanya mempunyai 6 putri dan 1 putra yaitu Ki Ageng Henis ayah dari Ki Ageng Pemanahan yang memiliki anak Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati pendiri dan raja pertama Mataram Islam yang berpusat di Kota Gedhe Yogyakarta saat itu. 

2. Ki Ageng Ngerang II selanjutnya tercatat memiliki keturunan yaitu Ki Ageng Ngerang III, Ki Ageng Ngerang IV dan Pangeran Kalijenar.

3. Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah atau Nyi Ageng Ngerang III yang makamnya berada di Laweyan Solo dan mempunyai putra yang bernama Ki Ageng Penjawi atau Ki Ageng Pati karena mendapat hadiah dari Sultan Hadiwijaya Raja Pajang setelah berhasil menumpas Arya Penangsang dalam drama pertempuran dramatis ditepian bengawan sore. 


Dengan demikian baik Nyai Ageng Ngerang maupun Ki Ageng Ngerang adalah Habaib dan Syarifah karena merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Juga perpaduan nasab dari leluhur bidadari yaitu Dewi Nawangwulan. 


Trah Nasab Nyai Ageng Ngerang dalam terminologi Jawa sering disebut dengan Trahing Kesumah, Rembesing Madu, Wijining Tapa, Tedhaking Andanawarih yang bermakna seorang mendapatkan kemulyaan adalah karena keturunan bangsawan, pertapa atau alim ulama, sehingga menjadi pilihan utama. 


Hal ini bertolak dari konsepsi dalam anasir sebab yaitu bibit yang berkaitan dengan asal-usul, keturunan, atau benih. Bebet yang di pahami sebagai status sosial, meliputi kedudukan, keahlian, kepandaian, kepangkatan/jabatan atau kewibawaan. Bobot yang mengandung makna kamukten harta benda.


Setelah sepanjang hidupnya berkhidmat untuk mengamalkan segala ilmu shalehkah dan mensyiarkan tauhid Islam di Kawasan gunung Kendeng di Pati maka Nyai Ageng Serang akhirnya beristirahat dari keletihan umur setelah menjalani kehidupan yang panjang hingga 100 tahunan kemudian jasadnya dikebumikan di Pedukuhan Ngerang Desa Tambakromo Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati  Jawa Tengah. 


Kekeramatan Nyai Ageng Ngerang bukan hanya terpancar pada pusara makamnya saja namun juga pada petilasanya yang terletak di sebelah selatan makam beliau yang disebut "Punthuk". Petilasan ini berupa tanah menjorok membentuk bukit kecil yang diriwayatkan dahulu sebagai tempat Nyai Ageng Ngerang melakukan tetirah topomeleng untuk melakukan munajat kepada Allah SWT. 


Khusus tanah Punthuk seluas sekitar 2 meter persegi ini terlihat bersih karena tidak ada rerumputan. Konon dikisahkan karena segala tumbuhan tidak bisa ditumbuh (gundul) padahal disekitarnya tumbuh beberapa tanaman sebagaimana tanah pada umumnya. Memasuki tanah Punthuk ini akan langsung tercipta dimensi yang wingit, sakral dan profan. 


Dengan menziarahi langsung pusara makam Nyai Ageng Ngerang selain akan mengingatkan pada kematian dan kefanaan maka sekurang kurangnya kita bisa belajar mendisiplinkan diri tentang kesadaran untuk selalu berada bersama Allah dengan mengambil bentuk spektrum yaitu penyatuan diri dengan - Nya. Hulul yaitu manifestasi Tuhan dalam diri manusia, Ma’rifat yang berarti Melihat-Nya ataupun mahabbah (Mencintai-Nya).


Semoga kita semua mendapatkan ampunan dan Ridlo dari Allah SWT. 


Semoga Bermanfaat..! 

Lahul Fatihah


Wallahu a’lam bish-shawabi (والله أعلمُ بالـصـواب) 

Dan Allah Mahatahu yang benar atau yang sebenarnya”


 Senin, 25/07/22

----------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini diramu dari wawancara dengan Juru Kunci Makam Kyai Slamet Rosyidin, diskusi dengan sejarawan setempat ditambah dengan referensi bacaan yaitu :

1. Babad Tanah Jawi. (terjemahan). Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. Narasi. Yogyakarta. 2007.

2. KH. Husein Muhammad, Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah. IRCiSod. 2020.

3. Achmad Chodjim, Serat Centhini Jilid 1. Achmad Chodjim. Baca. 2019

https://tic.patikab.go.id

4. http://p2kp.stiki.ac.id

5.http://p2k.unhamzah.ac.id

6. Wikipedia 


--------------------------------------------------------------------------------

* Penulis adalah peternak dan tukang ngarit untuk sepasang Kambing yaitu Bendot (jantan) Benik (betina). Sehari hari tinggal di Desa.