Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

 



 


 


src="https://jsc.mgid.com/m/a/matalensanews.com.1538513.js" async>
Rabu, 29 Mei 2024, 3:30:00 PM WIB
Last Updated 2024-05-29T08:30:58Z
BERITA UMUMNEWS

Acara Meriah di Alun-Alun Pancasila Salatiga Diwarnai Cerita Mistis dan Kontroversi Anggaran

Advertisement


SALATIGA |MATALENSANEWS.com– Malam itu, Senin (27/5/2024), Alun-alun Pancasila Salatiga dipenuhi sorak-sorai penonton yang terpukau oleh penampilan Niken Salindry. Namun, di balik kemeriahan panggung spektakuler tersebut, terselip cerita mistis yang menyisakan tanda tanya dan kekhawatiran di kalangan warga.


Panggung besar yang dibangun untuk acara ini diketahui didirikan membelakangi makam Mbah Jangkung, sebuah pelanggaran yang menurut kepercayaan lokal bisa mengundang malapetaka. 


Muhamad Sholeh, warga Kalicacing, mengungkapkan bahwa setelah acara berakhir, sejumlah orang mengalami kesurupan.


"Dengernya memang nggak boleh dan pas bubaran ada yang kesurupan. Itu dari dulu sudah jadi pantangan, acara apa saja tidak boleh membelakangi makam Mbah Jangkung," ujar Sholeh kepada awak media, Rabu (29/5/2024).


Sholeh menjelaskan bahwa dalam tradisi setempat, setiap acara besar harus diawali dengan nyekar atau meminta izin di makam Mbah Jangkung. Ritual ini dipercaya mampu menghindarkan hal-hal buruk selama acara berlangsung.


"Biasanya sebelum acara harusnya kan mintak izin dulu, setelah itu barulah bisa dimulai. Menghadapnya pun juga harus diarahkan sesuai aturan," tambahnya.


Ia menyebut bahwa pelanggaran tradisi ini sering berujung pada kejadian ganjil seperti hujan lebat disertai angin kencang atau bahkan kesurupan. 


"Sholeh juga mengaku ada penampakan sosok menyerupai hewan tinggi di tengah alun-alun."


Terpisah, Sri Hartono, Ketua Lembaga Elbeha Barometer, turut menyayangkan tindakan panitia pelaksana yang dianggap tidak menghormati budaya setempat. 


"Budaya itu kan ada sejak dahulu, harusnya dihormati. Percaya tidak percaya, hal tersebut ada dan juga ciptaan Tuhan Yang Maha Esa," tegasnya.


Selain persoalan mistis, Sri Hartono juga mengkritik kebesaran acara yang digelar oleh KPU Salatiga dalam rangka persiapan Pilkada. Ia menilai acara tersebut sebagai pemborosan anggaran yang kurang tepat.


"Menurut saya itu terlalu berlebihan dan hamburkan uang negara. Pihak terkait sebagai pelaksana harus transparan dan menyampaikan ke publik terkait penggunaan anggaran," tandasnya.


Ia menyarankan agar acara semacam ini lebih sederhana, seperti yang dilakukan oleh KPU di kabupaten/kota tetangga yang menggelar sosialisasi di kantor desa atau fasilitas pemerintah untuk meminimalisir anggaran.


"Kami saat ini sedang mencari data terkait itu dan kami berharap penggunaan anggaran terbuka," pungkas Sri Hartono.


Fenomena mistis dan kontroversi anggaran ini menambah kompleksitas di balik kemegahan pentas Niken Salindry. Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya menghormati kearifan lokal dan transparansi dalam penyelenggaraan acara besar yang melibatkan komunitas.


Malam gemerlap di Salatiga ini menyimpan misteri yang tak bisa diabaikan begitu saja, mencerminkan hubungan mendalam antara tradisi dan modernitas yang sering kali berbenturan.(TRI)