Advertisement
Laporan : Djoko S
SEMARANG|MatalensaNews.com – Dialog publik bersama komunitas dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Kota Semarang yang dirangkai dengan buka puasa bersama digelar pada Kamis sore (26/2/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Peran Ormas dalam Pencegahan Peredaran dan Penyalahgunaan Narkoba di Daerah.”
Dialog yang berlangsung di Kampus 2 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) itu digagas oleh Anggota DPD RI, Muhdi, yang hadir sebagai keynote speaker.
Ketua FKSB Kota Semarang, Dr. H. KRAT AM Jumai, SE, MM, bertindak sebagai moderator dalam kegiatan tersebut. Sementara narasumber lainnya berasal dari Ketua DPD GERAM Jawa Tengah, Havid Sungkar, S.H.
Dalam penyampaiannya, Jumai menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen ormas dalam melindungi generasi muda dari bahaya narkoba.
“Ini menjadi komitmen kita bersama. Peran ormas di manapun berada harus menyelamatkan anak negeri ini dari dampak narkoba, baik sebagai pengguna maupun pengedar. Jangan sampai anak-anak kita terlibat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi penyalahgunaan narkoba di Kota Semarang yang dinilainya cukup memprihatinkan.
“Semarang termasuk daerah dengan angka penyalahgunaan narkoba tertinggi di Jawa Tengah,” tegasnya.
Menurutnya, terdapat sekitar 460 organisasi kemasyarakatan yang terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang. Seluruhnya, kata dia, memiliki peran strategis dalam pemberdayaan dan edukasi masyarakat.
FKSB pun mendorong peningkatan sosialisasi dan penyuluhan, mengingat edukasi bahaya narkoba dinilai masih minim di tengah masyarakat. Ia mengapresiasi peran DPD GERAM Jawa Tengah serta dukungan dari DPD RI dalam membangun komunikasi intens terkait upaya pencegahan narkoba.
“Sosialisasi dan penyuluhan bahaya narkoba masih perlu diperkuat. Kami mengapresiasi DPD GERAM dan dukungan dari DPD RI yang selama ini ikut berkomunikasi intens,” jelasnya.
Jumai menambahkan, peran tokoh agama lintas agama juga sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya narkoba.
“Seluruh tokoh agama perlu bergerak lebih masif melalui mimbar-mimbar keagamaan,” pungkasnya.
Sementara itu, Muhdi menilai persoalan narkoba di Indonesia kian mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan serius dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, indikator nyata dari masifnya peredaran dan penyalahgunaan narkoba terlihat dari tingginya jumlah narapidana kasus narkotika di lembaga pemasyarakatan.
“Secara kuantitatif mudah dilihat, lebih dari 50 persen penghuni lapas adalah kasus penyalahgunaan narkoba. Ini menunjukkan betapa serius dan masifnya persoalan ini,” kata Muhdi seusai dialog.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara ormas, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dalam menekan angka peredaran serta penyalahgunaan narkoba, khususnya di Kota Semarang dan wilayah Jawa Tengah.

