Advertisement
![]() |
| Gambar ilustrasi |
Laporan : TRI
SALATIGA|MATALENSANEWS.COM — Tekanan terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menuai sorotan. Lembaga Elbeha Barometer menyatakan keprihatinan atas teror yang dialami Tiyo setelah ia melontarkan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tekanan itu disebut bermula usai Tiyo berbicara dalam diskusi publik yang digelar Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik. Dalam forum tersebut, ia menilai program MBG belum menyentuh akar persoalan bangsa, khususnya ketimpangan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia.
Ketua Elbeha Barometer, Sri Hartono, menilai situasi ini sebagai sinyal rapuhnya iklim demokrasi di kampus. “Gelombang intimidasi tersebut menimpa Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, beserta rekan bahkan keluarganya. Universitas yang seharusnya menjadi laboratorium nalar kini justru dibayangi ketakutan. Itu sangat memprihatinkan,” kata Sri.
Ia menegaskan, kritik akademik seharusnya dijawab dengan dialog terbuka, bukan ancaman. Pemerintah, menurut dia, tidak perlu bersikap anti-kritik. “Harusnya justru senang bukan malah bertindak layaknya penguasa,” ujarnya.
Sri juga meminta aparat penegak hukum mengusut pelaku teror. “Kami berharap pihak aparat hukum turun tangan dan mengusut siapa pelaku teror tersebut,” katanya.
Soal substansi kritik, Sri mengaku sependapat dengan Tiyo. Program MBG, kata dia, perlu evaluasi menyeluruh agar tidak memicu pemborosan anggaran. “Kan bisa angka itu diserahkan langsung ke penerima manfaat berupa uang. Sehingga bisa multiguna. Tapi ya kembali lagi, dibalik itu diduga ada kepentingan,” tandasnya.
Ia mengaku juga pernah menghadapi tekanan saat mengkritik kebijakan pemerintah. “Itulah birokrasi negara kita. Dikritik petugas yang harusnya jadi pengayom justru mencari. Itu lagu lama,” ujarnya.
Sri pun mengajak publik mencermati pihak-pihak yang diuntungkan dari program tersebut. “Mari kita data, pemilik dapur SPPG terbanyak itu siapa. Apakah masyarakat umum atau penguasa. Dari situ kita bisa menilai. Kita sebagai masyarakat harus cerdas dan kritis yang sifatnya membangun,” katanya.

