Advertisement
Laporan : Goent
KAB.SEMARANG|MATALENSANEWS.com – Aksi perang sarung yang melibatkan dua kelompok remaja di Kecamatan Getasan berujung tragis. Seorang pelajar berusia 13 tahun meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat melarikan diri usai bentrokan tersebut, Minggu (22/2/2026) dini hari.
Peristiwa bermula sekitar pukul 00.15 WIB, ketika dua kelompok anak di bawah umur dari Dusun Sokowolu dan Dusun Pulihan, Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, menggelar aksi perang sarung di jalan umum Dusun Ngroto, Desa Tajuk, Kabupaten Semarang. Aksi tersebut diduga telah direncanakan sebelumnya oleh kedua kubu.
Setelah saling serang menggunakan sarung, kubu Dusun Pulihan dilaporkan kalah dan berusaha melarikan diri. Korban, KWES (13), warga Dusun Pulihan RT 04 RW 01 Desa Tajuk, bersama dua rekannya yakni RAW (13) dan APS (14), melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda Beat bernomor polisi AB 2895 AG.
Namun saat melintas di tikungan jalan umum Dusun Kendal, Desa Jetak, Kecamatan Getasan, sepeda motor yang dikendarai APS melaju lurus dan menabrak pohon di tepi jalan. Kecelakaan terjadi sekitar pukul 01.00 WIB.
Akibat benturan keras tersebut, korban KWES mengalami luka berat. Warga yang mengetahui kejadian itu, yakni Sugiyarno dan Sutiman, segera mendatangi lokasi dan melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Getasan. Korban kemudian dilarikan ke RSUD dr. Ario Wirawan untuk mendapatkan perawatan intensif.
Korban sempat dirawat di ruang ICU. Namun setelah menjalani perawatan medis, korban dinyatakan meninggal dunia (MD) sekitar pukul 07.15 WIB.
Dalam peristiwa tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa dua buah sarung yang digunakan saat perang sarung serta satu unit sepeda motor Honda Beat.
Perang sarung sendiri kerap terjadi pada malam hingga dini hari dan melibatkan remaja, terutama pada bulan Ramadan.
Kapolsek Getasan, Agus Pardiyono Marinus, menegaskan pihaknya akan terus menekan dan mencegah terjadinya aksi serupa di wilayah hukum Polsek Getasan.
“Kami akan meningkatkan deteksi dini dengan merangkul tokoh agama (toga), tokoh masyarakat (tomas), pihak sekolah serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, khususnya pada malam hari,” tegasnya.
Ia juga mengimbau para orang tua agar lebih peduli dan meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak, terutama pada bulan Ramadan, di mana aksi perang sarung kerap terjadi dan berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Kasus ini masih dalam penanganan pihak kepolisian guna pendalaman lebih lanjut terkait keterlibatan para remaja dalam aksi yang berujung maut tersebut.(*)

