Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Minggu, 07 Juni 2026, 12:57:00 PM WIB
Last Updated 2026-06-07T05:57:47Z
BERITA UMUMNEWS

Hasil Ketahanan Pangan Warga Binaan Lapas Purwodadi Laris Manis di CFD, Raup Rp588 Ribu dalam Sehari

Advertisement


Purwodadi |MATALENSANEWS.COM– Hasil program ketahanan pangan yang dikelola oleh warga binaan dan petugas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi mendapat sambutan positif dari masyarakat. Berbagai produk pertanian dan peternakan yang dipasarkan dalam kegiatan Car Free Day (CFD) di depan Lapas Purwodadi, Minggu (7/6/2026), laris terjual dalam waktu singkat.


Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi program pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus dukungan terhadap program ketahanan pangan yang terus dikembangkan di lingkungan pemasyarakatan.


Dalam kegiatan CFD tersebut, Lapas Purwodadi memasarkan sejumlah produk hasil budidaya warga binaan, di antaranya 20 kilogram telur ayam, 17 kilogram terong yang dikemas dalam 26 plastik, serta 10 kilogram kangkung yang dikemas menjadi 30 ikat.


Seluruh produk yang dipasarkan merupakan hasil dari program pertanian dan peternakan produktif yang selama ini dijalankan di dalam lapas sebagai sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan.


Antusiasme masyarakat terhadap produk hasil ketahanan pangan tersebut terbilang tinggi. Seluruh produk yang dijual habis terjual, sehingga menghasilkan pendapatan sebesar Rp480.000 dari penjualan telur ayam, Rp78.000 dari terong, dan Rp30.000 dari kangkung.


Dengan demikian, total omzet yang diperoleh dari kegiatan pemasaran tersebut mencapai Rp588.000.


Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi, Erik Murdiyanto, mengatakan bahwa keberhasilan penjualan produk hasil ketahanan pangan ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan kemandirian yang dijalankan mampu menghasilkan produk berkualitas dan bernilai ekonomis.


Menurutnya, program ketahanan pangan tidak hanya berorientasi pada hasil produksi semata, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.


“Program ketahanan pangan tidak hanya menghasilkan produk yang bernilai ekonomis, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan di bidang pertanian dan peternakan. Harapannya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal usaha mandiri ketika mereka telah selesai menjalani masa pidana,” ujar Erik.


Ia menjelaskan, pemasaran produk melalui CFD juga menjadi sarana untuk memperkenalkan hasil karya warga binaan kepada masyarakat luas. Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di bidang ketahanan pangan.


Ke depan, Lapas Purwodadi berkomitmen untuk terus mengembangkan program pertanian dan peternakan produktif sebagai media pembinaan yang mampu meningkatkan keterampilan, kemandirian, dan kesiapan warga binaan dalam menghadapi kehidupan setelah kembali ke masyarakat.


Melalui program tersebut, warga binaan diharapkan memiliki bekal yang memadai untuk membangun usaha secara mandiri, menciptakan peluang ekonomi, serta berkontribusi positif di lingkungan tempat tinggalnya setelah menyelesaikan masa pidana.


Selain itu, hasil penjualan produk ketahanan pangan nantinya akan disalurkan dalam bentuk premi kepada warga binaan yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi. Sebagian hasil lainnya juga akan dimanfaatkan untuk program sosial yang ditujukan kepada masyarakat sekitar maupun keluarga warga binaan yang membutuhkan.


Kegiatan pemasaran hasil ketahanan pangan melalui CFD berlangsung aman, tertib, dan lancar. Program ini menjadi wujud nyata pembinaan kemandirian yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia warga binaan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.(Goent)