Advertisement
KEDIRI |MATALENSANEWS.COM– Di puncak salah satu bukit di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri, berdiri sebuah batu raksasa yang diyakini sebagian masyarakat memiliki kaitan erat dengan kisah legendaris Kebo Iwa, panglima Kerajaan Bedahulu dari Bali. Lokasi yang dikenal sebagai Batu Tulis itu hingga kini masih menjadi tujuan peziarah, terutama dari Pulau Bali, yang meyakini tempat tersebut sebagai lokasi gugurnya sang panglima.
Batu setinggi sekitar delapan meter itu berdiri kokoh di antara bongkahan batu besar lainnya yang membentuk formasi menyerupai meja dan kursi. Secara geologis, bebatuan tersebut diduga merupakan sisa material andesit dari letusan Gunung Wilis pada masa lampau. Namun, di balik fenomena alam tersebut, berkembang cerita turun-temurun yang mengaitkannya dengan akhir perjalanan hidup Kebo Iwa.
Pemerhati sejarah sekaligus Wakil Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (Pasak), Erwan Yudiono atau yang akrab disapa Jeje, mengatakan kisah Kebo Iwa telah menjadi legenda yang hidup di tengah masyarakat Jawa maupun Bali.
"Kisah pengorbanan Kebo Iwa hingga kini masih hidup menjadi legenda. Peristiwa itu juga disebut sebagai awal runtuhnya Kerajaan Bedahulu yang selama lebih dari empat abad berkuasa di Bali," ujar Jeje.
Menurutnya, Kebo Iwa merupakan panglima militer Kerajaan Bedahulu pada masa pemerintahan Prabu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten sekitar abad ke-14. Sosok yang digambarkan bertubuh besar dan memiliki kesaktian luar biasa itu dikenal pernah berikrar bahwa selama dirinya masih hidup, tidak akan ada kerajaan yang mampu menguasai Bali, termasuk Majapahit.
Pada masa yang sama, Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi tengah menjalankan ekspansi wilayah sebagai bagian dari pelaksanaan Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gajah Mada. Salah satu wilayah yang menjadi target penyatuan Nusantara saat itu adalah Bali.
Namun, upaya Majapahit menaklukkan Bali disebut mengalami hambatan besar akibat perlawanan Kebo Iwa bersama panglima lainnya, Pasung Grigis. Menyadari sulit menaklukkan Bali melalui peperangan terbuka, Gajah Mada kemudian memilih strategi diplomasi dengan menawarkan perdamaian kepada Kerajaan Bedahulu.
Dalam kisah yang berkembang, Kebo Iwa diundang ke Pulau Jawa sebagai tamu kehormatan dan dijanjikan akan dinikahkan dengan seorang perempuan dari wilayah yang dikenal sebagai Lemah Tulis. Lokasi Lemah Tulis hingga kini masih menjadi perdebatan para sejarawan. Sebagian menyebut berada di Desa Watu Tulis, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, sementara pendapat lain mengarah ke kawasan Trowulan, Mojokerto.
Versi cerita yang paling dikenal menyebut Kebo Iwa dibunuh secara licik saat membantu menggali sumur. Ia ditimbun hidup-hidup dengan batu. Namun karena kesaktiannya, Kebo Iwa dikisahkan tidak langsung meninggal hingga terjadi pertarungan sengit dengan Gajah Mada.
Dalam kondisi terdesak, Gajah Mada disebut menyampaikan bahwa Kebo Iwa merupakan penghalang terwujudnya cita-cita menyatukan Nusantara. Mendengar alasan tersebut, Kebo Iwa akhirnya memilih mengorbankan dirinya demi persatuan Nusantara.
"Tapi berdasarkan wangsit orang Bali, saat terdesak Gajah Mada melarikan diri ke Gunung Wilis," tutur Jeje.
Kepercayaan masyarakat Bali kemudian berkembang bahwa Batu Tulis di lereng Gunung Wilis merupakan lokasi gugurnya Kebo Iwa. Sebagian peziarah meyakini tempat itu sebagai lokasi pemakamannya, sementara yang lain percaya Batu Tulis merupakan simbol moksanya sang panglima setelah rela mengorbankan nyawa demi persatuan Nusantara.
Untuk mencapai Batu Tulis, pengunjung harus berjalan kaki sekitar satu kilometer melalui jalur menanjak di kawasan timur Air Terjun Dholo, Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Sepanjang perjalanan, tumbuh tanaman andong berdaun merah yang sengaja ditanam warga sebagai penunjuk jalan sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
Hingga kini, Batu Tulis masih menjadi salah satu destinasi ziarah budaya dan sejarah yang banyak didatangi masyarakat, khususnya dari Bali. Terlepas dari berbagai versi yang berkembang dan belum dapat dibuktikan secara historis, legenda Kebo Iwa tetap menjadi bagian penting dari khazanah budaya Nusantara yang diwariskan secara turun-temurun.(Anggoro)

