Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Rabu, 02 September 2026, 9:12:00 PM WIB
Last Updated 2026-09-02T14:12:11Z
BERITA PERISTIWANEWS

Enam Gunung Api Meletus Bersamaan Akhir Agustus, PVMBG Pastikan Tak Saling Berkaitan

Advertisement

Gambar ilustrasi 

JAKARTA|
MATALENSANEWS.COM – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkap enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada akhir Agustus 2026. Meski terjadi dalam waktu berdekatan, rangkaian letusan tersebut tidak menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi secara serentak dan saling berkaitan.


Enam gunung api yang mengalami erupsi tersebut yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.


Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, mengatakan hingga saat ini tidak ditemukan bukti adanya aktivitas tektonik regional yang menjadi pemicu letusan keenam gunung api tersebut secara bersamaan.


“Aktivitas tektonik memang bisa mempengaruhi sistem vulkanik jika gunung berada dalam kondisi kritis, namun hingga saat ini belum ditemukan bukti adanya satu aktivitas tektonik regional yang memicu letusan keenam tersebut sekaligus,” ujar Rita, Rabu (2/9/2026).


Rita menjelaskan, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Masing-masing gunung memiliki karakter, dinamika, serta sistem magmatik yang berbeda.


Menurut dia, beberapa gunung api seperti Gunung Semeru, Gunung Ibu, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Lewotobi Laki-laki memang memiliki riwayat erupsi berulang. Karena itu, terjadinya erupsi pada waktu yang berdekatan bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan adanya hubungan antargunung.


“Secara statistik erupsi pada hari yang sama sangat mungkin terjadi,” jelasnya.


Mekanisme Erupsi Berbeda


PVMBG menjelaskan mekanisme erupsi gunung api dapat berbeda-beda. Erupsi dapat berupa letusan freatik atau hidrovulkanik akibat interaksi panas dengan air, erupsi magmatik yang berkaitan dengan keluarnya magma, maupun erupsi freatomagmatik yang melibatkan tekanan tinggi dan dapat memuntahkan material dalam jumlah besar.


Untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api, PVMBG melakukan pengamatan terhadap berbagai parameter. Di antaranya kegempaan, deformasi tubuh gunung, komposisi gas, kondisi termal, pengamatan visual, serta parameter pendukung lainnya.


“Penetapan status suatu gunung api murni didasarkan pada kondisi internal gunung itu sendiri, tidak dipengaruhi oleh letusan gunung lain,” kata Rita.


Gunung Sinabung Naik Status Jadi Siaga


Salah satu gunung api yang mengalami perubahan status adalah Gunung Sinabung di Sumatera Utara.


Aktivitas Gunung Sinabung meningkat dari Level II atau Waspada yang telah berlaku sejak 17 Mei 2023 menjadi Level III atau Siaga mulai 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.


Peningkatan status tersebut didasarkan pada hasil pemantauan aktivitas vulkanik. Sebelum erupsi, tercatat 85 gempa vulkanik, satu kali hembusan, serta satu kali tremor harmonik.


Gunung Sinabung kemudian mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB. Kolom abu hasil erupsi teramati mencapai ketinggian sekitar 3.500 meter dan bergerak ke arah timur-tenggara.


Dengan status Level III Siaga, masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi. Warga juga diminta menjaga jarak minimal 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung serta radius sektoral 6 kilometer ke arah selatan-tenggara.


Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lahar yang dapat terjadi di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung, terutama ketika hujan turun.


Anak Krakatau Tetap Siaga


Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026.


Pada 31 Agustus 2026, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak.


PVMBG melakukan evaluasi berdasarkan sejumlah parameter, di antaranya aktivitas kegempaan, emisi gas sulfur dioksida (SO2), anomali panas yang terdeteksi melalui satelit, serta titik api di kawah.


PVMBG menegaskan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak secara otomatis memicu tsunami.


Meski demikian, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap waspada serta tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.


Masyarakat juga diimbau mengikuti informasi dan arahan resmi dari pemerintah serta instansi terkait.


PVMBG akan terus melakukan pemantauan aktivitas gunung api secara berkelanjutan. Evaluasi dan perubahan status akan dilakukan apabila terdapat perubahan signifikan pada kondisi vulkanik.


“Prinsip utama yang ditekankan adalah masyarakat harus tetap tenang namun jangan lengah dengan mengenali bahaya, bersiaga dalam tindakan, demi keselamatan jiwa,” pungkas Rita.(Red/GT)