Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Senin, 12 Oktober 2026, 11:25:00 PM WIB
Last Updated 2026-10-12T16:25:33Z
BERITA UMUMNEWS

BMKG Tetapkan 7 Kabupaten di Jawa Tengah Berstatus Awas Kekeringan, Salatiga Masuk Siaga

Advertisement


JAWA TENGAH|
MatalensaNews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan tujuh kabupaten di Jawa Tengah (Jateng) berstatus awas kekeringan meteorologis pada Dasarian II Oktober 2026 atau periode 11–20 Oktober 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.


Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan masa transisi musim berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap mewaspadai kekeringan yang masih terjadi di sejumlah wilayah, meskipun potensi hujan mulai muncul.


Saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin (12/10/2026), Goeroeh menjelaskan bahwa berdasarkan peta peringatan dini BMKG periode 11–20 Oktober 2026, tujuh kabupaten yang berstatus awas meliputi Brebes, Tegal, Pemalang, Jepara, Pati, Rembang, dan Wonogiri.


“Status awas merupakan tingkat peringatan tertinggi dalam pemetaan dini kekeringan meteorologis,” katanya.


Selain tujuh kabupaten tersebut, sejumlah daerah di Jawa Tengah juga masuk kategori siaga kekeringan meteorologis. Wilayah itu meliputi Kota Tegal, Kota Magelang, Kota Salatiga, Kota Surakarta, serta Kabupaten Purworejo, Magelang, Semarang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Demak, dan Kudus.


Sementara itu, wilayah yang berstatus waspada meliputi Kota Semarang serta Kabupaten Cilacap, Kebumen, Temanggung, dan Kendal.


Adapun sejumlah wilayah lainnya tidak masuk kategori peringatan dini kekeringan meteorologis karena diprakirakan segera memasuki masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan pada Dasarian II Oktober 2026.


Awal Musim Hujan di Jateng Berbeda-beda


BMKG sebelumnya memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di Jawa Tengah berlangsung secara bertahap, terutama pada November hingga Desember 2026.


Goeroeh menjelaskan, perbedaan waktu datangnya musim hujan dipengaruhi oleh kondisi iklim setempat. Akibatnya, peningkatan curah hujan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah Jawa Tengah.


Sebagian wilayah diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada Dasarian I November atau awal November 2026. Wilayah tersebut antara lain sebagian besar Kabupaten Wonosobo, bagian timur Banjarnegara, serta sebagian kecil wilayah Temanggung, Kebumen, Banyumas, Brebes, Pemalang, Purbalingga, dan Tegal.


Sementara itu, sebagian wilayah Kabupaten Jepara, Pati, dan Rembang, serta sebagian kecil Kabupaten Demak, diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Dasarian II Desember atau pertengahan Desember 2026.


Menurut Goeroeh, awal musim hujan di seluruh zona musim di Jawa Tengah juga diperkirakan mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal berdasarkan periode klimatologis 1991–2020.


Kondisi tersebut membuat masyarakat tidak boleh langsung menganggap musim hujan telah dimulai hanya karena hujan turun sesekali. Masa peralihan musim masih berpotensi diwarnai kondisi cuaca yang berubah-ubah.


Masyarakat Diminta Antisipasi Kekeringan dan Cuaca Ekstrem


BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah tetap mengantisipasi dampak kekeringan, terutama yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih dan kebutuhan air untuk sektor pertanian.


Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim.


“Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan tetap mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terhadap ketersediaan air bersih dan kebutuhan air sektor pertanian, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa transisi,” kata Goeroeh.


Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan terus memantau informasi dan peringatan cuaca dari BMKG, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.


Kewaspadaan tetap diperlukan karena awal musim hujan di Jawa Tengah tidak berlangsung serentak, sementara sejumlah daerah masih menghadapi ancaman kekeringan meteorologis sepanjang Oktober 2026.(RENDY)