Advertisement
DEMAK |MATALENSANEWS.COM– Kabar baik datang bagi warga Dukuh Bogame, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Setelah hampir 10 tahun menghadapi keterisolasian akibat abrasi dan banjir rob, Jembatan Barijah yang menjadi salah satu akses penting warga akhirnya mulai dibangun.
Jembatan yang selama ini dikenal warga sebagai Jembatan Miring tersebut melintasi Sungai Barijah. Kondisinya yang sempit dan miring membuat jembatan hanya dapat dilalui sepeda motor, sementara kendaraan roda empat tidak bisa melintas.
Pembangunan jembatan tersebut kini memasuki tahap pelaksanaan fisik dengan progres mencapai 27,90 persen berdasarkan laporan lapangan per 27 September 2026. Proyek tersebut memiliki masa pelaksanaan selama 145 hari kalender.
Pembangunan Jembatan Barijah sebelumnya sempat mengalami kegagalan lelang pada Tahun Anggaran (TA) 2025. Saat itu, Pemerintah Kabupaten Demak mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,5 miliar.
Namun, berdasarkan kajian teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (Dinputaru), anggaran tersebut dinilai belum mencukupi untuk membangun jembatan dengan kondisi tanah alluvium yang lunak serta karakteristik rob ekstrem di kawasan Sungai Barijah.
Akibatnya, tidak ada rekanan yang mengajukan penawaran sehingga proses lelang gagal dan pembangunan belum dapat dilaksanakan.
Pada TA 2026, pemerintah kembali mengalokasikan anggaran dengan melakukan rasionalisasi menjadi Rp3,5 miliar. Proses lelang kemudian kembali dibuka dan berhasil mendapatkan rekanan pemenang.
Kontraktor pemenang telah menandatangani kontrak kerja dan langsung melakukan mobilisasi peralatan berat ke lokasi untuk memulai pekerjaan fisik.
Pemkab Demak melalui Bapperida bersama Dinputaru, khususnya Bidang Bina Marga, juga melakukan peninjauan langsung pembangunan Jembatan Kali Barijah.
Kepala Bapperida Demak Masbahatun Ni'amah, ST., M.Si., bersama Sekretaris Dinputaru Naning Prihatiningrum, S.Ip., M.Si., serta Kabid Bina Marga dan tim pengendalian, pengawasan, pembangunan jalan dan jembatan turun langsung ke lokasi pada awal September 2026. Peninjauan tersebut dilakukan bertepatan dengan dimulainya pekerjaan pemancangan.
Berdasarkan laporan lapangan hingga 27 September 2026, sejumlah pekerjaan telah dilaksanakan. Di antaranya pekerjaan persiapan dan pembersihan lokasi, pemancangan pondasi dalam untuk menembus lapisan tanah alluvium lunak, serta peninggian tiang pancang untuk bagian oprit jembatan.
Selain itu, pekerjaan abutment atau kepala jembatan di kedua sisi Sungai Barijah juga mulai dikerjakan. Kontraktor juga telah melakukan mobilisasi berbagai material yang dirancang tahan terhadap korosi akibat air asin, termasuk material box girder baja custom.
Pembangunan jembatan tersebut menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Kontraktor harus berpacu dengan kondisi pasang surut air laut dan rob yang hampir setiap hari menggenangi kawasan Timbulsloko selama sekitar empat hingga enam jam.
Selama ini, kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi warga Dukuh Bogame. Ketika rob tinggi, jembatan lama dapat terendam sehingga aktivitas warga terganggu.
Bahkan, warga terpaksa menggunakan perahu untuk keluar masuk wilayah. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pendidikan karena anak-anak sekolah harus menggunakan perahu dengan jarak perjalanan sekitar satu kilometer setiap hari ketika akses jalan terendam.
Salah seorang warga Dukuh Bogame menyambut pembangunan jembatan tersebut. Ia berharap keberadaan jembatan baru dapat mengakhiri persoalan akses yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat.
"Alhamdulillah akhirnya dibangun. 10 tahun kami lewat jembatan miring, kalau rob tinggi harus mutar pakai perahu. Kalau jembatan beton ini jadi, motor bisa lewat, hasil tambak dan material bangunan bisa langsung dibawa, anak sekolah tidak perlu basah-basahan lagi," ungkapnya.
Selain menunjang mobilitas warga, pembangunan Jembatan Barijah diharapkan memberikan dampak langsung terhadap sejumlah sektor, mulai dari akses pendidikan, aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, usaha tambak dan perikanan, hingga akses kendaraan darurat seperti ambulans.
Dengan progres fisik yang telah mencapai 27,90 persen, pembangunan jembatan ditargetkan dapat rampung pada akhir Desember 2026, dengan catatan kondisi cuaca dan pasang surut rob mendukung proses pekerjaan.
Warga berharap pembangunan tidak hanya mengejar target waktu penyelesaian, tetapi juga mengutamakan kualitas dan ketahanan konstruksi mengingat jembatan berada di kawasan pesisir yang memiliki karakteristik tanah lunak serta paparan air asin dan rob.
Bagi masyarakat Dukuh Bogame, pembangunan Jembatan Barijah bukan sekadar pembangunan infrastruktur dengan nilai anggaran Rp3,5 miliar. Proyek tersebut diharapkan menjadi pintu keluar dari keterisolasian yang telah dirasakan warga selama hampir satu dekade sekaligus membuka akses yang lebih baik bagi pendidikan, perekonomian, dan pelayanan darurat masyarakat pesisir Sayung.(Arisyanto/Rendy)

