Advertisement
BOYOLALI| MatalensaNews.com – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali mendapat sambutan positif dari para siswa. Sistem penyajian ini dinilai membuat makanan lebih hangat, segar, dan menggugah selera sehingga siswa lebih bersemangat saat menyantap hidangan.
Uji coba tersebut berlangsung selama dua pekan, mulai Senin (5/10/2026) hingga Jumat (16/10/2026). SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali menjadi salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai lokasi proyek percontohan atau pilot project MBG prasmanan yang dilaksanakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siswodipuran 3, Boyolali.
Berdasarkan pantauan di sekolah pada Rabu (14/10/2026), sejumlah siswa terlihat membantu menurunkan makanan dari kendaraan distribusi untuk dibawa ke kelas. Siswa lainnya mengenakan alat pelindung diri (APD) guna membantu menyiapkan dan membagikan makanan kepada teman-temannya.
Setelah seluruh makanan siap disajikan, para siswa mengantre untuk mengambil nasi, lauk, sayur, dan buah sesuai porsi yang disediakan. Mereka kemudian menyantap makanan secara bersama-sama di kelas.
Salah satu siswa penerima MBG sekaligus petugas pembagian makanan, Attaya Rafi, mengaku lebih menyukai sistem prasmanan dibandingkan penyajian menggunakan ompreng atau wadah makan yang telah diisi sebelumnya.
“Lebih senang MBG prasmanan karena lebih enak dan lebih hangat. Tapi makannya memang terbatas 30 menit saja, cuma tidak apa-apa biar segera selesai dan belajar,” ujar Attaya.
Pembagian MBG dengan sistem prasmanan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan selesai pukul 08.30 WIB. Waktu tersebut sedikit berbeda dibandingkan pembagian menggunakan ompreng yang biasanya dimulai pukul 08.15 WIB.
Menurut Attaya, sistem prasmanan membutuhkan keterlibatan lebih banyak siswa karena ada yang bertugas menyiapkan makanan, mengatur pemorsian, hingga membagikannya kepada penerima.
Meski demikian, ia senang dilibatkan secara langsung karena dapat mengetahui porsi makanan yang sesuai. Ia juga menilai sistem tersebut berpotensi mengurangi makanan yang tersisa karena hidangan disajikan dalam kondisi lebih segar.
“Saya senang dilibatkan dalam pembagian MBG karena tahu porsi yang benar. Lalu, MBG prasmanan begini bisa habis, kadang ada yang nambah juga karena masakannya fresh. Kalau ompreng ada yang tidak habis, harapannya MBG prasmanan terus,” ungkapnya.
Kepala Sekolah Nilai Siswa Lebih Lahap Menyantap Makanan
Kepala SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali, Desti Trisnaningsih, menjelaskan perbedaan utama antara sistem prasmanan dan ompreng terletak pada cara penyajian makanan.
Pada sistem ompreng, makanan sudah ditempatkan dalam wadah dengan porsi masing-masing sebelum didistribusikan kepada siswa. Sementara itu, sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil nasi, lauk, sayur, dan buah sesuai porsi yang telah ditentukan.
Desti menilai keunggulan utama sistem prasmanan adalah kondisi makanan yang tetap hangat ketika disantap. Hal tersebut dinilai dapat meningkatkan selera makan siswa dibandingkan makanan yang sudah dikemas dan berpotensi mengalami penurunan suhu selama distribusi.
“Keunggulan di MBG prasmanan itu kondisi makanannya selalu hangat. Jadi ketika anak-anak makan benar-benar fresh, hangat, dan menggugah selera siswa sehingga mereka lahap, daripada di ompreng dalam kondisi dingin,” jelas Desti.
Ia mengakui, selama ini sebagian besar siswa tetap menikmati MBG yang disajikan menggunakan ompreng. Namun, masih terdapat makanan yang tidak habis dikonsumsi.
Ketika sistem prasmanan diuji coba, respons siswa dinilai positif. Bahkan, sejumlah siswa mengambil tambahan makanan setelah menghabiskan porsi awalnya.
Menurut Desti, sekolahnya menjadi salah satu lokasi percontohan MBG prasmanan dari 42 SPPG di Indonesia yang mengikuti proyek tersebut.
“Ada 42 SPPG se-Indonesia yang menjalani pilot project, sekolah kami di Boyolali yang ditunjuk dengan pelaksanaan SPPG Siswodipuran 3,” katanya.
Meski demikian, penerapan sistem prasmanan di sekolah tersebut masih terbatas. Uji coba baru melibatkan dua kelas, yakni 20 siswa kelas VII ICT dan 25 siswa kelas VIII B. Sementara itu, jumlah keseluruhan siswa SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali mencapai 114 orang.
Desti menambahkan, sistem prasmanan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam proses penyajian makanan, mulai dari persiapan hingga pembagian di kelas.
“Kalau piloting project MBG prasmanan ini, dari persiapan anak sudah dilibatkan. Mulai dari mobil datang, mereka langsung pakai masker untuk membawa makanan ke kelas. Di kelas, mereka tukar tim ke siswa bagian pemorsian,” terangnya.
Selama uji coba, menu MBG juga dibuat bervariasi setiap hari agar siswa tidak merasa bosan. Desti menilai variasi menu yang disiapkan SPPG Siswodipuran 3 menjadi salah satu faktor yang mendukung antusiasme siswa.
SPPG Jaga Suhu Makanan Sekitar 60 Derajat Celsius
Ahli gizi SPPG Siswodipuran 3, Donna Olivia, mengatakan pelibatan siswa dalam proses pembagian MBG tidak hanya bertujuan membantu penyajian makanan, tetapi juga membangun kebiasaan positif.
Kebiasaan tersebut meliputi mencuci tangan, menjaga kebersihan, menggunakan perlengkapan pelindung, serta membantu proses persiapan dan pemorsian makanan sesuai arahan petugas.
Donna menjelaskan, sistem prasmanan memungkinkan makanan disajikan dalam kondisi hangat karena proses memasak dan distribusi diatur agar jarak waktunya tidak terlalu lama.
Persiapan pengiriman MBG ke SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali dimulai sekitar pukul 07.30 WIB, sedangkan kendaraan distribusi berangkat pukul 07.45 WIB.
“Proses masaknya untuk MBG prasmanan dimepetkan agar kehangatannya terjaga. Kami biasanya H-1 jam sampai H-30 menit, kami selesai persiapan lalu distribusi ke sekolah. Jadi makanan dalam kondisi hangat dengan suhu sekitar 60 derajat Celsius dan makanan di sekolah bisa langsung disantap siswa,” jelas Donna.
Dalam pelaksanaan uji coba, setiap kelas didampingi satu petugas pemorsian yang bertugas mengawasi pembagian makanan. Siswa yang membantu proses tersebut diwajibkan mengenakan APD berupa masker, sarung tangan, celemek, dan penutup kepala karena bersentuhan langsung dengan makanan.
Petugas SPPG juga memberikan arahan mengenai tata cara penyajian serta jumlah atau berat makanan yang seharusnya diterima setiap siswa.
Donna mengakui, penerapan sistem prasmanan dalam skala lebih besar masih memerlukan evaluasi, terutama terkait kesiapan siswa dan kemampuan sekolah mengatur pembagian makanan secara tertib.
“Kalau dua kelas ini masih bisa diatasi, kami bingungnya misal nanti setiap kelas mumpuni enggak untuk mempersiapkan. Nanti siswa dari persiapan dan pemorsian itu muridnya sendiri, masing-masing lima siswa. Takutnya anak-anak belum bisa memporsikan,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem prasmanan turut mengubah tugas petugas pemorsian SPPG. Jika sebelumnya petugas lebih banyak bekerja di dapur untuk menempatkan makanan ke dalam ompreng, kini mereka harus turun langsung ke sekolah guna mengawasi proses pembagian makanan.
“Ke depan kami belum tahu bagaimana, tapi untuk saat ini satu orang pemorsi mengawasi satu kelas, bertugas memberi tahu gramasi per orang dan sebagainya,” ungkapnya.
Apabila sistem prasmanan diterapkan secara penuh, Donna memperkirakan petugas pemorsian nantinya dapat mengawasi beberapa kelas sekaligus, dengan mempertimbangkan kebutuhan pengawasan dan kesiapan sekolah.
Diharapkan Kurangi Sisa Makanan
Selain menjaga makanan tetap hangat, penerapan MBG prasmanan juga diharapkan mampu mengurangi sisa makanan atau food waste.
Melalui sistem ini, siswa diharapkan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan makanan yang telah diambil. Jika masih merasa lapar, siswa diperbolehkan menambah porsi dengan ketentuan makanan yang diambil harus dihabiskan.
Evaluasi akan dilakukan setelah uji coba selama dua pekan selesai. Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan efektivitas sistem prasmanan, baik dari sisi kualitas penyajian, keterlibatan siswa, pengawasan pemorsian, maupun pengurangan sisa makanan.
Dengan respons awal yang positif dari siswa, sistem MBG prasmanan di SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali menjadi salah satu alternatif penyajian yang dapat dikaji lebih lanjut untuk mendukung pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi peserta didik.(Goent)

