Menakar Peta Politik Pilpres 2024 -->

Menakar Peta Politik Pilpres 2024

Sunday, June 21, 2020, June 21, 2020

Jakarta,MATALENSANEWS.com - Studi Politik dan Kebijakan Publik (P3S) yang dipimpin Jerry Massie dengan menggandeng PEWARNA Indonesia berhasil menggelar diskusi webinar zoom bertajuk “Menakar Peta Politik 2024” pada Jumat (19/6/2020) yang dikunjungi oleh 100 peserta dari 22 provinsi di Indonesia baik itu dari akademisi tidak, memanggil, memanggil, pimpinan bawaslu daerah, profesional hingga mahasiswa. Acara ini dipandu Sudut Pandang Presiden Milleneals, Vivin Sri Wahyuni.
Direktur Perludem Titi Angraini saat tampil sebagai  pembicara utama  dalam webinar ini, yang diundang terkait Pilkada 2020 dan pilkada selanjutnya.
“Sangat bagus untuk memilih tokoh-tokoh alternatif baru yang muncul di petarungan politik 2024 nanti. Semakin banyak pilihan semakin tinggi. Tapi banyak aspek yang harus diperhatikan, ”katanya.
Dia mencontohkan, seperti RUU pemilu yang meminta calon yang ingin maju pada pemilu 2024 harus memenuhi 25% kursi dari pemilu sebelumnya.
“Maka dengan ada RUU Pemilu ini peluang untuk memunculkan tokoh alternatif untuk Pemilu 2024 sangat tidak mungkin. Karna tidak bisa memenuhi syarat atau dengan kata lain banyak tokoh alternatif yang diperlukan di dorong akan tetapi saluran untuk menominasikan kandidat tidak dibuka.
Kordinator Komite Pemillih Indonesia (TePi) Jeirry Sumampow mengupas soal tren politik Indonesia yang lebih mengarah pada politik oligarki.
“Maka untuk mensiasatinya dengan membuka lebih banyak kandidat. Jika dilaksanakan, harus dapat dilibatkan masyarakat dan kewaspadaan "kesadaran" lantaran pilkada diselenggarakan (tahun ini) masih di masa pandemi ini, "tuturnya.
Sementara Direktur Indopoling Wempy Hadir mengemukakan terkait peta kekuatan politik yang ada saat ini.
“Menurut pengamatan saya akan ada yang paling tidak tiga pasangan calon presiden pada pemilihan 2024. Kemenangan dari partisipasi politik saat ini, maka PDI Perjuangan tetap menjadi pendulu pilpres yang akan datang. Selain partai PDIP adalah partai rulling (punya presiden dan partai pemenang pemilu 2019). Maka tidak heran PDIP menjadi lirikan bagai semua pihak untuk membangun kerja sama politik. Hal ini bisa dilihat dari Prabowo Subianto pada tanggal 24 Juli 2019 yang lalu membangun komunikasi dengan Ketua Umum PDIP Ibu Megawati, ”katanya.
“Prabowo sadar bahwa dia membangun komunikasi dengan DPIP agar bisa berkomunikasi dengan dirinya sendiri untuk membangun koalisi pada pilpres yang akan datang. Selain itu, platform kedua partai memang tidak bertolak belakang, ”ucap Wempy.
Dengan demikian, terangnya, bisa petakan itu, jika Prabowo maju dalam pencapresan maka PDIP tentu akan mengambil posisi wakil
a. Poros Pertama, Koalisi Gerindra-PDIP (PPP?) = (Prabowo Subianto, Puan Maharani, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini) (225 kursi DPR RI)
b. Poros kedua, Nasdem-PKS-PAN = (Anis Baswedan, Susi Pudjiastuti dan Ridwan Kamil) (153 kursi DPR RI).
c. Poros tiga, Demokrat-PKB-Golkar = (AHY, Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartanto, Erick Tohir) (177 kursi DPR RI). Jadi bisa dilihat, ada beberapa potensi yang bisa dijadikan alternatif oleh masing-masing poros.
“Namun peta masih sangat dinamis masih berpotensi untuk melakukan penjajakan kerja sama / koalisi menuju pilpres 2024, disediakan pilpres masih empat tahun lagi,” ungkapnya.
“Mengapa Pilpres 2024 diperebutkan? Tidak bisa dipungkiri hubungan politik memiliki cukup signifikan. Sementara itu, negara memiliki otoritas yang berwenang dalam mengalokasikan nilai kepada masyarakat seperti yang disampaikan Ilmuwan ilmu politik David Easton. Oleh sebab itu, tidak heran kalau kebijakan tentang politik selalu menjadi rebutan oleh orang, ”tandasnya
Direktur Median Rico Marbun menentukan perlunya perubahan peraturan tentang Presidential Threshhold (PT) agar kandidat yang bukan yang 'lagi itu lagi bisa muncul.
“Ambang Kepresidenan nol persen perlu didukung ramai-ramai.
Contoh, 2018 lalu median pernah rilis survei. Untuk itu, dia berharap tema ekonomi akan penting di 2019 lalu. [Dan ada tokoh seperti Rizal Ramli yang muncul dalam 3 persepsi publik yang paling kompeten, ”terangnya.
“Dan tokoh yang sama juga muncul sebagai tokoh alternatif dalam survei Kedai Kopi beberapa waktu yang lalu. Tapi tokoh seperti Rizal dan yang lain-lain tidak akan pernah memiliki peluang jika ini masih berlaku, ”kata Rico.
Direktur Kedai Kopi Kunto Arif Wibowo memaparkan atau mengupas sejumlah nama yang melejit.
Survei Tokoh Alternatif Nasional menggunakan tokoh-tokoh politik nasional yang memiliki persepsi yang baik di masyarakat Indonesia serta memiliki potensi untuk berkontestasi dalam pertarungan politik Indonesia ke depan.
Susi Pudjiastusti, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Tri Risma, Sri Mulyani, Andi Amran Sulaiman, Khofifah, Amran Sulaiman, dan Rizal Ramli.
“Nama-nama tersebut dibuat melalui Diskusi Kelompok Fokus (FGD) yang dilakukan dengan melibatkan dari setiap provinsi secara berani. Sebelum survei dilakukan untuk menyaring nama sekaligus menajamkan isu yang akan ditanyakan pada responden, ”ungkapnya.
Susi Pudjiastuti, Anies Baswedan Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Sri Mulyani, Andi Amran Sulaiman, Khofifah Indar Parawansa dan Rizal Ramli.
Survei yang digali secara nasional (34 provinsi) pada tanggal 27 April - 8 Mei, 2- 4 Juni 2020 dengan menggunakan 1200 responden dengan metode survei online ini pada umumnya menilai publik terhadap para tokoh alternatif Indonesia.
“Hal yang menarik dari hasil survei tokoh ini adalah tingkat atas yang disukai terhadap Susi Pudjiastuti yang merupakan Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada periode pemerintahan Jokowi sebelumnya. Susi Pudjiastuti dipersepsikan masyarakat sebagai sosok yang beruntung (21,3%), meski percaya memiliki kekurangan karena pendidikannya yang tidak formal (2,9%), ”katanya.
“Selain itu juga muncul nama Andi Amran Sulaiman yang merupakan Mantan Menteri Pertanian sebagai satu-satunya tokoh yang berasal dari Indonesia Timur dan menjadi tokoh yang mewakili Indonesia Timur. Andi dipersepsikan masyarakat yang memiliki kinerja baik (4,6%), Meskipun percaya dirinya kurang dikenal (2,4%), ”tambahnya.
Sementara itu Direktur Eksekutif Studi Politik dan Kebijakan Publik (P3S) Jerry Massie menilai peluang di luar anggaran untuk 2024 ada Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil dan juga Gubernur Khofifah Indar Parawangsa
“Anies Baswedan juga berpeluang besar. Covid-19 adalah representasi capres. Dua tokoh mileneal yaitu Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Alasan mendasar, kecepatan, kesiagaan hingga ketepatan mengambil kebijakan dan keputusan (kebijakan dan keputusan) menjadi kartu AS. Erick tokoh milenial potensi yang kredibel, ”kata dia.
Dia pun mengingatkan pemilihnya cukup dominan yaitu 80 juta atau 40 persen daru 185 juta pada pilpres lalu. Dengan memulai bahkan untuk elektabilitasnya Prabowo bahkan PDIP, ini menjadi sinyalemen positif bagi figur lain. Kemapanan, ketegasan dan visioner menjadi poin penting untuk publik pada Pilpres 2024 mendatang.
“Saya nilai saat ini rakyat perlu bukan pencitraan politik (politik pencitraan) tetapi tindakan politik (tindakan politik). Bukan hanya umbar janji atau politik jual kecap, hanya politik dagang sapi, tapi politik asli. Saya prediksi swing voters (pemilu) akan meningkat pada Pemilu 2024, ”kata Jerry.
Data statistikiknya pada 2019 yaitu 13 persen bertambah tanpa pemilih pemilih. Lantaran menerima UU yang digodok tak sesuai dengan keinginan dan kemauan publik. Sebut saja RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP), UU Omnibus yang menolak kaum buruh, UU pemindahan modal baru, Kesehatan, Pajak, Tenaga Kerja. Soal Pepres No. 40/2004 tentang BPJS, UU Tapera No 4 Tahun 2016. Belum lagi 12 RUU-KHUP kontroversi dari Santet hingga Aborsi. Jelas ini akan sangat merugikan partai-partai besar. Belum lagi Perppu No. 1/2020 tentang Pandemik Covid-19.
“Ini barang kali ini akan menurunkan kredibilitas partai pendukung pemerintah. Boleh jadi, swing voters dan undiceded voters bisa mencapai 30 persen, yang mana pada 2019 mencapai 25 persen, ”lanjutnya.
Politik etis akan menjadi barometer kemenangan calon pada Pilpres 2024 bukan politik praktis.
“Pasalnya, rakyat kerap jadi kelinci percobaan. Tokoh konservatif lainnya adalah Rizal Ramli. Mantan Menko Ekuin di era mendiang Presiden Gus Dur ini berpeluang, lantaran selain dekat dengan rakyat kecil, suka membantu rakyat marjinal dan juga cinta rakyat. Dia tipikal bukan hanya pencitraan tetapi tindakan nyata. Rizal calon alternatif dari kalangan profesional, akademisi dan aktivis, ”terangnya.
Suara lantangnya membahas kelompok terzalimi menjadi referensi yang disetujui di Pilpres 2024. Calon presiden rakyat 2019 lalu ini memang tak didukung partai di parlemen tapi aura politiknya cukup kuat.
“Untuk calon ketua parpol maka Surya Paloh cukup berhasil lolos pada 2024 ini. Salah satu tokoh dari parpol ini menarik maju pada bursa Pilpres 2024. Untuk partai raksasa (partai raksasa) Golkar akan sangat sulit untuk lolos, ”tandas Jerry.
Berbeda dengan Pemilu 2014 Golkar berhasil maraup 330 kursi. Sementara Jawa Timur atau daerah zona hijau (zona hijau) masih akan dikuasai PKB, Jateng (Zona Merah, PDI-P), Jabar (Zona Putih, Gerindra dan PKS), Banten (Zona Kuning, Golkar). Jakarta adalah wilayah zona putih dan merah.
“Kekuatan ini dapat bergeser pada Pilpres 2024, jika melihat pemetaan jalan politik saat ini. Tetap daerah perang politik di Jawa tetap seru. Jabar dengan pemilih terbanyak 33,2 juta, Jatim 30,9 Juta, Jateng 27 Juta. Jakarta 7,7 juta pemilih, Banten 7,4 juta dan Jogja 2,7 juta jadi total 118,8 juta, ”paparnya.
“Pemilih di Pulau Jawa, 60 persen dari 192 juta pemilih pada pilpres 2019 yang lalu. Jika Ganjar berpasangan dengan Ridwan Kamil maka 33 juta dan 27 maka ada 60 juta suara masing-masing. Jika Khofifah-Ridwan (63 juta), Ganjar-Anies (34 juta), Anies-Ridwan (40 juta), Khofifah-Anies (37 juta), Ridwan-Khofifah (60 juta), ”jelasnya.
Lawan tangguh juga kalau Prabowo- Puan ditandemkan. Alasannya sederhana kedua partai ini menggunakan kombinasi Golkar. PDIP meraup 128 kursi dan Gerindra 78 kursi pada pemilihan lalu. Berarti perkawinan politik PDI-P dan Gerindra.
Jika dilihat gelagat Prabowo dengan merapat ke koalisi PDI-P. Ini berlebihan, sinyalemen merah dan putih akan berafiliasi politik.
"Itulah gambaran peta politik 2024. Indikiator kemenangan terletak pada  branding, pangsa pasar politik, strategi, masalah pembangunan, pendekatan politik, pemasaran politik, kerja tim, dan perang politik," pungkasnya.(**)

TerPopuler