Soal PTM Terbatas, Kak Seto Beri Saran Simulasi Prokes untuk Anak -->

Header Menu


Soal PTM Terbatas, Kak Seto Beri Saran Simulasi Prokes untuk Anak

Wednesday, November 3, 2021


TANGERANG SELATAN,MATALENSANEWS.com - Sejumlah daerah di Indonesia sudah mulai menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, utamanya di zona Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1- 3.


Penyelenggaraan PTM yang diberlakukan mulai September 2021 ini, dalam pelaksanaanya, Kemendikbudristek menghimbau keselamatan menjadi prioritas utama. Selain kesiapan satuan pendidikan dan tenaga pendidik, adaptasi siswa dengan kebiasaan baru di sekolahpun menjadi perhatian.


Menyikapi hal tersebut, Pimpinan media Viosarinews dan Pemimpin Redaksi Kicaunews mendatangi kediaman Psikolog Anak dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak di Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto pada Selasa, 2/11/2021, guna membahas langkah-langkah pemberlakuan pelaksanaan Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.


Kak Seto pun mengingatkan semua pihak untuk memastikan kesiapan anak menjalankan adaptasi kebiasaan baru dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.


"kesiapan anak melaksanakan PTM Terbatas harus berada di zona hijau, ia meminta Kemendikbud untuk tidak memaksakan PTM Terbatas di sekolah yang masih berada di zona merah.” terang Kak Seto.



Kak Seto menuturkan, peserta didik datang ke sekolah pun harus melaksanakan Protokol Kesehatan yang ketat agar tidak ada lagi penularan virus terhadap anak didik pasca PTM berjalan.


"Mungkin ada simulasi atau pelatihan penerapan protokol kesehatan sehingga saat terjun kelapangan tidak melakukan kesalahan lagi," tutur Kak Seto.


Lebih jauh Kak Seto Mulyadi menyarankan, dengan cukup banyaknya temuan kasus COVID-19 di klaster PTM, ia menghimbau supaya PTM tidak terburu-buru untuk dilaksanakan. 


Kak Seto mengingatkan, anak-anak memiliki dua hak yang harus dipenuhi. "Yaitu, hak hidup dan tidak terancam kematian. Lalu, hak untuk hidup sehat," ujar Kak Seto.


Selain itu, Kak Seto juga menjelaskan terkait beberapa alasan yang mendorong terjadinya kekerasan terhadap anak saat PTM kembali digelar. 


“Saat pandemi, tidak hanya anak-anak yang stres tetapi juga orang dewasa. Kemudian saat PTM dibuka, seolah-olah permasalahan pribadi dilampiaskan kepada siswa,” ujarnya.


Memaknai kata diatas, kak seto berharap agar para tenaga pengajar tidak hanya berfokus pada kurikulum saja, melainkan memberikan materi yang esensial agar semangat belajar siswa tumbuh kembali.


Menghindari terjadinya pelampiasan yang berdampak pada kekerasan di lingkungan rumah maupun sekolah. Selama pandemi, ia menekankan sangat perlu adanya Peran orang tua serta tenaga pengajar untuk terus mendorong semangat belajar, bukan menambah tekanan pada mereka.


“Ini artinya, masalah pribadi, ekonomi, dan keluarga jangan sampai dibawa ke sekolah. Jadi, sebagai guru dan orang tua harus profesional dengan emosi yang tertata dan terkendali, terlebih para orang tua yang harus bisa menyadari akan pentingnya menjaga kesehatan fisik maupun mental,” tutupnya.


Vio Sari /Tim