Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

 



Kamis, 11 Januari 2024, 2:53:00 AM WIB
Last Updated 2024-01-10T19:53:46Z
BERITA PERISTIWANEWS

Bentrok Relawan Ganjar-Mahfud dan Warga Terungkap Sebelum Peristiwa Pengeroyokan oleh Oknum Prajurit TNI di Boyolali

Advertisement

Kadispenad Kristomei Sianturi

Boyolali|MATALENSANEWS.com-Pihak TNI telah mengungkap adanya konflik antara relawan Ganjar-Mahfud dengan warga sebelum insiden pengeroyokan oleh oknum prajurit TNI di Boyolali, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.


"Peristiwa ini dipicu oleh bentrokan awal antar warga," ungkap Kadispenad Kristomei Sianturi di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (10/1/2024). 


Menurut Kristomei, konflik itu timbul karena relawan Ganjar-Mahfud yang melintas menutupi jalur yang sebelumnya dapat dilewati oleh warga.


"Dikarenakan warga merasa tidak terima bahwa jalan yang sebelumnya dapat dilalui dua jalur kemudian ditutup, terlebih lagi dengan penggunaan knalpot brong, akhirnya menimbulkan kemarahan dan ketidaksenangan di kalangan warga setempat," jelas Kristomei.


Dia menegaskan perlunya penanganan yang seimbang guna menciptakan keadilan yang sejati serta mencegah terjadinya insiden serupa di masa mendatang. 


Kristomei menyebutkan bahwa dari sudut pandang peraturan yang berlaku, kelompok relawan salah satu pasangan calon melakukan pelanggaran lalu lintas dan menggunakan knalpot brong. 


Walaupun demikian, peristiwa tersebut juga melibatkan pelanggaran oleh oknum prajurit yang melakukan pemukulan.


"Ada tindakan yang harus diambil juga dari sisi masyarakat. Tujuannya agar insiden semacam ini tidak terulang di masa depan," tambahnya. 


Kristomei menegaskan bahwa kasus ini bukan tindakan TNI yang sewenang-wenang atau bertindak sebagai hakim sendiri atas pelanggaran lalu lintas, yang seharusnya merupakan wewenang Polri. 


Awalnya, prajurit tersebut hendak menghentikan bentrokan antara warga dengan relawan Ganjar-Mahfud, tetapi provokasi yang terjadi mengakibatkan reaksi emosional dari prajurit tersebut.


"Kami menyesalkan tindakan prajurit yang terprovokasi, hal ini jelas terlihat dalam kasus tersebut. Kami tidak dapat membenarkan tindakan tersebut," ungkapnya. 


Kristomei berharap agar kasus ini dapat diselesaikan melalui pendekatan keadilan restoratif. Dia juga memastikan bahwa permintaan maaf kepada korban, keluarga korban, dan masyarakat sekitar telah disampaikan.(GT)