Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Minggu, 23 Agustus 2026, 8:45:00 PM WIB
Last Updated 2026-08-23T13:45:33Z
BERITA UMUMNEWS

BRIN Ungkap Tsunami Pangandaran 2006 Diduga Diperkuat Pergerakan Massa Bawah Laut

Advertisement


JAKARTA| MatalensaNews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan baru terkait mekanisme pembentukan tsunami Pangandaran 2006. Hasil kajian menunjukkan tsunami tersebut kemungkinan tidak hanya dipicu oleh gempa bumi, tetapi juga diperkuat oleh pergerakan massa bawah laut.


Temuan tersebut mengindikasikan bahwa mekanisme pembentukan tsunami Pangandaran jauh lebih kompleks dibandingkan pemahaman sebelumnya. Pergerakan massa bawah laut diduga turut memperbesar gelombang sekaligus mempercepat waktu tiba tsunami di kawasan pesisir.


Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, mengatakan tsunami Pangandaran merupakan salah satu contoh tsunami earthquake, yakni kondisi ketika tsunami yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan estimasi berdasarkan parameter gempa yang tercatat.


“Tsunami Pangandaran merupakan salah satu contoh tsunami earthquake, yakni kondisi ketika gelombang tsunami yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan estimasi berdasarkan parameter gempa yang tercatat,” ungkap Wiko dalam Webinar “Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045”, Selasa (4/8/2026).


Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan tinggi gelombang tsunami di beberapa lokasi mencapai lebih dari 8 meter. Bahkan, berdasarkan kesaksian sejumlah penyintas, gelombang tsunami disebut melampaui ketinggian pohon kelapa di sejumlah wilayah pesisir.


Menurut Wiko, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim peneliti mengkaji kemungkinan adanya faktor nonseismik yang ikut berkontribusi terhadap besarnya tsunami yang menerjang daratan.


“Setelah melalui beberapa investigasi dan analisis, ada potensi kemungkinan adanya faktor-faktor nonseismik yang berkontribusi dalam peningkatan tsunami di daratan,” jelasnya.


Gempa dan Pergerakan Massa Bawah Laut


Wiko menjelaskan, tsunami Pangandaran selama ini dikategorikan sebagai tsunami earthquake. Fenomena tersebut terjadi ketika energi tsunami yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan perkiraan berdasarkan parameter sumber gempa yang terukur.


Kondisi itu membuka kemungkinan bahwa pembangkitan tsunami tidak hanya berkaitan dengan deformasi dasar laut akibat gempa bumi, tetapi juga dipengaruhi mekanisme nonseismik.


“Setelah kami melakukan pengujian berbagai skenario, terdapat kemungkinan bahwa gempa bumi dan pergerakan massa bawah laut bersama-sama berkontribusi membangkitkan tsunami. Model ini mampu memberikan estimasi yang lebih mendekati kondisi tsunami yang sebenarnya terjadi,” ujar Wiko.


Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti mengasimilasikan berbagai data, mulai dari batimetri, topografi, katalog gempa historis hingga hasil observasi lapangan.


Pemodelan dilakukan menggunakan sistem nesting grid yang memungkinkan simulasi tsunami dengan resolusi tinggi. Dengan metode tersebut, peneliti dapat menggambarkan wilayah genangan hingga skala bangunan.


Berbagai kemungkinan sumber dan mekanisme kemudian diuji melalui proses iterative calibration untuk mendapatkan model yang paling sesuai dengan kondisi tsunami Pangandaran pada 2006.


Tsunami Bisa Tiba Lebih Cepat


Hasil evaluasi terhadap 14 skenario menunjukkan bahwa model yang menggabungkan sumber gempa dengan indikasi pergerakan massa bawah laut memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi dengan hasil observasi lapangan.


Kesesuaian tersebut terlihat dari sejumlah parameter, antara lain tinggi gelombang, waktu kedatangan tsunami, hingga tingkat paparan terhadap infrastruktur dan korban jiwa.


Salah satu temuan penting adalah potensi percepatan waktu tiba tsunami akibat adanya pergerakan massa bawah laut.


Dalam simulasi yang hanya menggunakan sumber gempa, gelombang diperkirakan mencapai pantai dalam waktu sekitar 40–50 menit. Sementara pada model yang memasukkan faktor pergerakan massa bawah laut, tsunami diperkirakan tiba dalam waktu sekitar 20–30 menit.


Estimasi tersebut dinilai lebih sesuai dengan sejumlah data empiris berdasarkan kesaksian penyintas tsunami Pangandaran 2006.


“Model yang memasukkan faktor pergerakan massa bawah laut menunjukkan waktu tiba tsunami yang lebih mendekati data empiris dari kejadian 2006,” kata Wiko.


Masuk Melalui Muara Sungai


Simulasi resolusi tinggi juga menunjukkan bahwa dampak tsunami tidak hanya terjadi di kawasan pantai.


Gelombang tsunami dalam pemodelan disebut dapat memasuki wilayah daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap. Kondisi tersebut berpotensi memperluas wilayah terdampak tsunami.


Di sisi lain, pemodelan juga mampu mengidentifikasi sejumlah kawasan yang relatif tidak terdampak. Informasi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan zona evakuasi apabila terjadi tsunami di masa mendatang.


Selain mengkaji mekanisme pembentukan tsunami, tim peneliti juga menguji pendekatan penskalaan sumber gempa.


Wiko mengatakan formulasi Takemura menghasilkan estimasi yang lebih mendekati data observasi dibandingkan formulasi yang digunakan dalam pendekatan sebelumnya.


Masih Membutuhkan Penelitian Lanjutan


Meski menghasilkan temuan penting, BRIN menegaskan bahwa dugaan keterlibatan pergerakan massa bawah laut dalam pembentukan tsunami Pangandaran belum dapat dianggap sebagai kesimpulan final.


Menurut Wiko, masih diperlukan analisis sensitivitas dan penelitian lanjutan untuk memperoleh konfirmasi ilmiah yang lebih kuat mengenai mekanisme tersebut.


Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesiapsiagaan masyarakat serta pengembangan sistem mitigasi bencana tsunami yang lebih akurat.


Pemodelan risiko beresolusi tinggi, menurut Wiko, dapat membantu pemerintah dan pemangku kepentingan dalam memahami wilayah yang berpotensi terdampak sekaligus menyusun strategi evakuasi yang lebih tepat.


Ke depan, BRIN juga berencana melanjutkan penelitian terkait bahaya kelautan (ocean hazard), termasuk mengembangkan prototipe sistem pemantauan tsunami dengan biaya yang lebih terjangkau.


Teknologi tersebut diarahkan untuk memantau perubahan muka laut secara real time sehingga dapat mendukung penguatan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.


“Kami telah melakukan inisiasi bersama rekan-rekan dari bidang teknik untuk memproduksi alat monitoring tsunami yang lebih murah dan dapat diterapkan untuk mendukung pemantauan gelombang laut,” pungkas Wiko.(ErAngga)